22 Negara Desak Iran Buka Selat Hormuz, Ancaman Energi Global Kian Nyata

Koalisi 22 negara mendesak Iran membuka Selat Hormuz demi menjaga stabilitas energi global. (Foto: : APA)

Kumbanews.com – Sebanyak 22 negara mendesak Iran segera membuka kembali jalur strategis Selat Hormuz yang disebut mengalami penutupan de facto oleh pasukan Teheran.

Desakan itu tertuang dalam pernyataan bersama yang dirilis Uni Emirat Arab dan didukung sejumlah negara besar, seperti Inggris, Prancis, Jerman, Jepang, hingga Australia.

Bacaan Lainnya

Koalisi negara tersebut menyatakan keprihatinan atas meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Teluk. Mereka juga mengecam serangan terhadap kapal dagang tak bersenjata serta infrastruktur sipil, termasuk instalasi minyak dan gas.

“Kami mengutuk keras serangan terhadap kapal dagang dan infrastruktur sipil serta penutupan Selat Hormuz secara de facto,” demikian isi pernyataan bersama tersebut.

Mereka menegaskan, kebebasan navigasi merupakan prinsip fundamental dalam hukum internasional, sebagaimana diatur dalam United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS).

Koalisi juga mengingatkan bahwa gangguan terhadap jalur pelayaran internasional dapat berdampak serius terhadap rantai pasok energi global dan stabilitas dunia.

“Mengacu pada resolusi Dewan Keamanan PBB, gangguan terhadap pelayaran internasional dan pasokan energi merupakan ancaman bagi perdamaian global,” lanjut pernyataan tersebut.

Selain itu, negara-negara tersebut menyerukan moratorium segera atas serangan terhadap infrastruktur sipil, termasuk fasilitas minyak dan gas.

Mereka juga menyatakan kesiapan untuk mendukung keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Dukungan juga diberikan terhadap langkah International Energy Agency (IEA) yang mengizinkan pelepasan cadangan minyak strategis guna menstabilkan pasar energi global.

Ketegangan di kawasan meningkat setelah serangan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026, yang kemudian dibalas dengan serangan ke wilayah Teluk dan kapal-kapal yang melintas.

Akibat situasi tersebut, lalu lintas kapal di Selat Hormuz dilaporkan turun drastis hingga sekitar 95 persen. Kondisi ini memicu kekhawatiran global, mengingat sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia bergantung pada jalur tersebut.

 

 

Pos terkait