Daya Beli Kelas Menengah Menyusut, Laju Pertumbuhan Ekonomi Tertekan

Ilustrasi

Kumbanews.com – Kondisi perekonomian nasional menghadapi tekanan serius seiring melemahnya daya beli masyarakat, khususnya dari kelompok kelas menengah, yang selama ini menjadi motor utama konsumsi domestik. Penyusutan ini berdampak langsung pada perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Peneliti Desk Ekonomi GREAT Institute, Adrian Nalendra, menilai bahwa stabilitas konsumsi agregat yang masih terjaga justru menyamarkan persoalan struktural yang kian menguat di lapisan kelas menengah. Padahal, kelompok ini berperan besar dalam belanja diskresioner dan menjaga momentum pertumbuhan.

Bacaan Lainnya

“Basis konsumen kelas menengah yang selama ini menjadi penggerak utama belanja justru menyusut. Sebaliknya, kelompok rentan dan kelas menengah rentan membesar, sementara mobilitas sosial cenderung mengalami stagnasi,” ujar Adrian dalam konferensi pers bertajuk Melangkah Maju di Tengah Ketidakpastian di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu, 10 Januari 2026.

Ia menjelaskan, dalam kondisi tersebut konsumsi rumah tangga masih berfungsi sebagai penyangga pertumbuhan ekonomi. Namun, peran itu belum cukup kuat untuk mendorong akselerasi ekonomi secara berkelanjutan, terutama ketika tekanan biaya hidup dan ketidakpastian pendapatan terus meningkat.

Konferensi pers tersebut sekaligus menjadi ajang pemaparan Economic Outlook 2026 GREAT Institute, yang mengulas dinamika ekonomi global, evaluasi kinerja ekonomi nasional sepanjang 2025, serta agenda transformasi ekonomi Indonesia pada 2026.

Dari sisi kebijakan, peneliti GREAT Institute lainnya, Adamski Pangeran, menekankan pentingnya pembenahan iklim investasi sebagai kunci pemulihan dan penguatan pertumbuhan. Menurutnya, persaingan global dalam menarik penanaman modal asing kian ketat, seiring menyusutnya aliran investasi dunia.

“Di tengah mengecilnya kue investasi global, agenda utama bukan semata promosi, melainkan meningkatkan investability. Kepastian eksekusi kebijakan, terutama terkait tata ruang, perizinan, dan debottlenecking, menjadi faktor penentu,” tegas Adamski.

Ia menambahkan, tanpa reformasi struktural yang konsisten, tekanan pada daya beli berpotensi berlanjut dan menahan laju pertumbuhan ekonomi nasional dalam jangka menengah. (***)

Pos terkait