Dari Pinggir Jalan Mallengkeri, Papsq Coffee Menyeduh Peluang di Tengah Ramainya Warkop Makassar

Dari pinggir Jalan Mallengkeri, Papsq Coffee membuktikan bahwa konsistensi rasa dan lokasi strategis mampu menjaga usaha keluarga tetap bertahan di tengah ramainya warkop Makassar. 

Kumbanews.com – Di tengah hiruk-pikuk lalu lintas Jalan Mallengkeri, Kelurahan Mangasa, Kecamatan Tamalate, sebuah UMKM warung kopi tumbuh dan bertahan di tengah persaingan yang kian padat. Papsq Coffee, yang berdiri tepat di pinggir jalan utama, hadir sebagai ruang singgah yang mudah dijangkau, hangat, dan terasa akrab. Dari tempat sederhana inilah, secangkir kopi menjadi bagian dari denyut ekonomi kecil yang terus bergerak di Kota Makassar.

Berdiri sejak 2018, Papsq Coffee merupakan usaha keluarga yang dikelola oleh Raswin. Lokasinya yang berdekatan dengan Universitas Negeri Makassar (UNM) Kampus Parangtambung menjadikan mahasiswa sebagai segmen utama pelanggan.

Bacaan Lainnya

Aktivitas kampus yang nyaris tak pernah sepi menciptakan arus pengunjung yang relatif stabil dari waktu ke waktu.

“Kami memilih buka warkop karena dekat kampus. Mahasiswa butuh tempat nongkrong yang nyaman dan terjangkau,” ujar Raswin saat ditemui Sabtu (17/01/2026).

Dalam beberapa tahun terakhir, bisnis warkop di Makassar tumbuh pesat seiring menguatnya budaya nongkrong dan ngopi di kalangan anak muda. Persaingan pun semakin ketat. Di tengah kondisi tersebut, Papsq Coffee memilih bertahan dengan mengandalkan strategi sederhana namun konsisten menjaga kualitas rasa dan pelayanan.

Bagi Raswin, kekuatan utama Papsq Coffee terletak pada aroma kopi yang kuat dan cita rasa yang stabil. Prinsip ini dijaga sejak awal usaha dirintis, disertai pelayanan yang ramah agar pelanggan merasa nyaman dan ingin kembali.

“Kalau rasa dijaga, pelanggan pasti datang lagi. Itu yang kami pegang sampai sekarang,” katanya.

Selain kualitas minuman, suasana juga menjadi perhatian. Live music dihadirkan sebagai nilai tambah yang menciptakan atmosfer santai dan akrab. Konsep ini membuat pengunjung betah berlama-lama, baik untuk mengerjakan tugas, berdiskusi, maupun sekadar melepas penat.

Dari beragam varian minuman yang ditawarkan, kopi susu menjadi menu paling diminati pelanggan dengan harga Rp15.000 per gelas. Menu ini mencatat tingkat penjualan tertinggi karena rasanya yang seimbang dan mudah diterima berbagai kalangan. Sementara itu, greentea seharga Rp18.000 dan chocolate Rp20.000 turut melengkapi pilihan, khususnya bagi pelanggan non-kopi.

Perjalanan usaha ini tidak selalu berjalan mulus. Masa pandemi Covid-19 menjadi ujian terberat, ketika operasional Papsq Coffee harus dijalankan secara terbatas dan sempat mengalami sistem buka-tutup. Memasuki fase pemulihan hingga saat ini, pengelolaan modal yang disiplin menjadi kunci agar usaha keluarga tersebut tetap bertahan.

“Waktu pandemi itu berat sekali. Tapi kami berusaha bertahan semampunya,” ungkap Raswin.

Ke depan, Raswin berharap dapat mengembangkan Papsq Coffee lebih jauh. Kendala permodalan masih menjadi tantangan utama.

Namun, ia tetap optimistis. Baginya, menjalankan usaha bukan semata soal ekspansi besar, melainkan tentang ketekunan, konsistensi, dan kemampuan membaca peluang dari lingkungan sekitar.

Di tengah ramainya bisnis warkop Makassar, Papsq Coffee memilih tidak sekadar ikut tren. Dari pinggir Jalan Mallengkeri, usaha ini menunjukkan bahwa UMKM dapat terus hidup dan bertumbuh dengan menjaga kualitas, memanfaatkan lokasi strategis, serta membangun kedekatan dengan pelanggan sebuah pelajaran penting bagi usaha kecil di tengah persaingan yang kian ketat.

 

 

 

Editor: Fyla Abdul

 

 

 

 

 

 

 

Pos terkait