Ariana Grande Bongkar Luka Terdalam: PTSD, Depresi, dan Duka yang Melahirkan Dua Album Paling Jujur dalam Hidupnya

Di balik gemerlap panggung, Ariana Grande bertarung dengan trauma Manchester, kehilangan Mac Miller, dan depresi yang menggerus jiwanya. Musik menjadi satu-satunya ruang aman yang membuatnya tetap hidup. (Foto: istimewa)

Kumbanews.com – Ariana Grande akhirnya membuka pergulatan paling kelam dalam hidupnya PTSD, depresi, kecemasan, dan duka berlapis yang diam-diam menjadi pondasi lahirnya dua album paling personalnya, Sweetener dan Thank U, Next. Dalam podcast Awards Chatter, Ariana mengaku musik menjadi satu-satunya cara bertahan hidup saat mentalnya berada di titik rapuh.

Ariana menyebut masa pembuatan kedua album itu sebagai proses penyembuhan darurat setelah serangkaian tragedi yang menghantam hidupnya. Mulai dari bom Manchester 2017 yang menewaskan 22 orang hingga kehilangan mantan kekasihnya, Mac Miller, setahun kemudian.

Bacaan Lainnya

“Aku butuh ini untuk jiwaku,” tegasnya, menepis keraguan label yang menilai perilisan album terlalu cepat.

Album Sweetener lahir di tengah luka besar yang belum pulih. Ariana mengisahkan bagaimana trauma Manchester masih menghantuinya ketika ia masuk studio. Tak lama setelah album rilis pada 2018, kematian Mac Miller kembali mengguncang mentalnya. Kondisi itu membuatnya terjun dalam terapi intensif sembari mencoba memahami tumpukan duka yang menindihnya.

Musik, katanya, adalah ruang aman untuk melepaskan emosi yang tak bisa ia ucapkan. Proses kreatifnya berjalan seperti insting penyelamatan diri mengalir, mendesak, dan tak bisa dihentikan. Dari situlah ia menemukan jarak untuk menatap kembali trauma yang membekas dalam.

Saat mengerjakan Thank U, Next, Ariana mengaku berada dalam kondisi paling rapuh. PTSD memicu kilas balik, ketakutan ekstrem, hingga insomnia berkepanjangan. Depresi membuatnya kehilangan energi dan semangat, sementara kecemasan menghadirkan rasa gelisah tanpa henti. “Itu masa tergelapku,” ungkapnya.

Kehilangan Mac Miller memperdalam jurang grief yang ia alami. Semua itu membuatnya bertahan hanya melalui satu hal: menciptakan musik yang jujur meski penuh luka.

Di tengah perjuangan itu, Ariana menemukan kekuatan dari para penggemarnya. Ia sering menerima cerita bahwa lagu-lagunya membuat orang merasa tidak sendirian bahkan ada yang menemukan keberanian untuk coming out berkat musiknya. “Rasanya indah, aku membawa cerita-cerita itu bersamaku,” katanya.

Kini, meski masa itu penuh luka, Ariana melihat perjalanan emosionalnya sebagai bagian penting dari transformasinya baik sebagai seniman maupun manusia yang terus berusaha pulih. (***)

 

Pos terkait