AS-Israel Hantam Teheran, Khamenei Tewas: Iran Berkabung 40 Hari dan Siap Membalas

Iran umumkan 40 hari berkabung nasional setelah Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam operasi militer yang melibatkan AS dan Israel.  (Ilustrasi)

Kumbanews.com – Dunia diguncang kabar besar dari Iran. Pemerintah resmi mengonfirmasi Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei, tewas setelah operasi militer gabungan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel, Sabtu (28/2/2026).

Media pemerintah Iran melaporkan Khamenei gugur saat berada di kompleks Beit Rahbari, Teheran. Ledakan besar terdengar sejak fajar dan memicu kepulan asap tebal di sejumlah titik ibu kota. Otoritas menyebut fasilitas strategis menjadi sasaran, dengan dampak meluas hingga area sipil.

Bacaan Lainnya

Tak lama setelah pengumuman kematian tersebut, pemerintah Iran menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari. Bendera diturunkan setengah tiang, sementara ribuan warga dilaporkan berkumpul di sejumlah lokasi untuk menyampaikan duka.

Beberapa jam sebelum konfirmasi resmi Teheran, Presiden AS Donald Trump melalui platform Truth Social menyatakan operasi bersama Washington dan Tel Aviv telah menewaskan Khamenei. Pernyataan itu langsung memicu kecaman keras dari pejabat Iran yang menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran berat terhadap kedaulatan negara.

Militer Israel mengklaim sejumlah pejabat tinggi keamanan Iran turut menjadi korban. Namun hingga kini, Teheran belum merinci identitas para pejabat yang dimaksud. Bulan Sabit Merah Iran melaporkan lebih dari 200 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka akibat rentetan pemboman tersebut.

Situasi kian memanas ketika Garda Revolusi Iran menyatakan siap melakukan pembalasan. Sistem pertahanan udara diaktifkan, sementara kekuatan rudal dan drone dilaporkan dalam status siaga tinggi. Sirene peringatan terdengar di sejumlah wilayah Israel, menandai potensi eskalasi lebih luas.

Peristiwa ini menjadi titik balik paling krusial dalam dinamika politik Timur Tengah dalam beberapa dekade terakhir. Ketegangan yang selama ini membara di balik layar kini berubah menjadi konfrontasi terbuka dengan risiko konflik regional yang semakin melebar.

 

 

 

 

Pos terkait