Ayah Meninggal Kena Covid dan Dapat Piagam, Dokter Ini Minta Jokowi Kembalikan Ayahnya

  • Whatsapp

Kumbanews.com – Seorang dokter yang bernama Leonita Triwachyuni mengungkapkan curahan hatinya ketika diberikan tanda jasa oleh pihak Kementerian Kesehatan.

Tanda jasa tersebut merupakan Piagam Tanda Kehormatan yang diberikan oleh Presiden Jokowi untuk ayah Leonita, Prof DR dr Bambang Sutrisna, MHSc.

Bacaan Lainnya

Prof Bambang merupakan salah seorang dokter yang meninggal dunia karena terpapar virus Covid-19 di awal pandemi di Indonesia.

Leonita bersyukur bahwa pemerintah masih mengingat jasa-jasa ayahnya. Sebenarnya, Leonita dan ibunya diundang ke Istana Negara pada Agustus 2020 silam untuk menerima tanda jasa secara langsung.

Tapi, Leonita dan ibunya tidak bisa datang. Akhirnya, Kemenkes mengirimkan tanda jasa tersebut pada Kamis (3/12/2020).

“Tapi tetap saja hal ini menyisakan kepedihan untuk saya dan keluarga saya. Meskipun saya berterima kasih kepada bapak presiden dan juga kemenkes, tapi mana ada sih yang mau ayahnya ditukar dengan benda ini??!” tulis Leonita di Instagramnya.

Leonita juga merasa miris melihat pandemi Covid-19 di Indonesia yang kasusnya malah terus bertambah setiap harinya.

Ketimbang diberikan tanda jasa, dia lebih memilih agar ayahnya hidup kembali dan dikembalikan kepadanya.

“Kalo boleh bilang sih, kembalikan ayah saya boleh ga pak presiden??” katanya.

Leonita hanya bisa berharap agar pandemi ini cepat berakhir dan tidak ada lagi korban meninggal.

“Semoga nyawa yang hilang juga ga cuma jadi angka statistik saja. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan,” tambahnya di Instastory.

Untuk diketahui, Prof DR dr Bambang Sutrisna, MHSc meninggal dunia pada 23 Maret 2020 dengan status Pasien dalam Pengawasan (PDP).

Meninggalnya sang ayah sempat membuat Leonita begitu emosional. Dia menyindir orang-orang yang mengabaikan imbauan agar tetap di rumah, yang berujung air mata untuk keluarganya.

Sang ayah terpapar virus Covid-19 dari seorang pasien yang merupakan suspek Covid-19, namun malah memaksa pulang dari rumah sakit.

“Hari ini makna #dirumahaja yang sbagian dari kalian abaikan dan jadikan lelucon menjadi airmata buat keluarga kami. Ya memang, ayah saya bisa dbilang bandel, disuru jangan praktek bilangnya kasian orang dari jauh.

“Ternyata pasien yang dibilang kasian itu adalah suspek COVID dengan rontgen paru2 uda putih semua. Pasien tersebut yang pulang paksa dari RS Bintaro karena ini dan itu.

“Lalu apa efeknya? Ayah saya demam, sesak. Fyi ayah saya adalah orang yang ga pernah ngeluh, patah kaki aja masi jalan, batuk2 masih ngajar dari rumah. Jadi ketika mengeluh sesak, itu ga main2.

“Dibawa ke RS, sesak ga membaik, saturasi terus turun, RJP, intubasi dan meninggal…

“Yang menyedihkan buat pasien Covid adalah meninggal sendirian, sesak sendirian, mau minta tolong? ga ada perawat berjaga, isolasi tertutup, keluarga ga bisa lihat. Tahu apa yg papa lakukan pas sesak tadi malem? telepon anak dan menantunya, minta tolong.

“Saya sampai menelpon RS utk kasih tau, karena keluarga ga bisa masuk. Jadi selama kalian punya hidup yang kalian hargai, punya keluarga yg kalian kasihi yang masih hidup plis jangan menambah penyebaran virus.

“Sungguh bukannya mau nakut2in tapi kalian bayangkan kalo keluarga kalian sesak nafas dan telepon2 kalian sambil minta tolong karena sesak, gimana perasaan kalian?

“Ato kalau kalian sendiri akhirnya tumbang karena covid dan diisolasi, sendirian.. sesak juga dinikmati sendirian.. gimana perasaan kalian?

“Marah?? Jelas saya marah karena ada orang-orang egois macam kalian yang gak mau nurut dan bawa penyakit buat keluarga kita. Jujur saya dua minggu ini, bahkan gak pulang, takut ketemu orangtua.

“Kenapa? karena saya kerja di RS, dan saya paham betul di rumah saya ada dua orang berusia diatas 60 tahun yang harus dilindiungi. Saya gak punya pilihan untuk #di rumah aja karena saya masih jaga.

Leonita juga mengungkapkan bagaimana sedihnya ia tak bisa melihat jenazah ayahnya untuk terakhir kalinya. Keluarga juga tidak bisa melihat wajah Prof Bambang Sutrisna saat masuk isolasi, atau menemani saat merasa sesak.

“Bisa lihat apa dari sini? enggak bisa liat apa-apa. Aku enggak tau gimana menderitanya papaku selain dari telpon kemarin malam,” kata Leonita.

Tak hanya itu, keluarga bahkan tidak bisa memilih pemakaman yang diinginkan oleh keluarga. Keluarga hanya bisa ziarah setelah sang ayah dimakamkan.

“Foto dimakamkan? Foto jenazah dimandikan? Jelas ga ada. Semua ga bisa kami lakukan, bahkan sekedar memilih pemakaman yang diinginkan (dan sudah dibeli) papaku aja gak bisa,” ujarnya.(*)

 

 

Pos terkait