Kumbanews.com – Jumlah korban tewas akibat banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat terus melonjak hingga 442 orang, sementara 402 warga masih dinyatakan hilang. Situasi semakin genting karena sejumlah wilayah masih terisolasi akibat jalan yang putus dan akses evakuasi yang terhambat.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengungkapkan, Sumatera Utara mencatat korban terbanyak, yaitu 217 meninggal dan 209 hilang. Penemuan jenazah baru di Tapanuli Selatan memicu lonjakan angka korban dalam satu hari terakhir. Ribuan warga terdampak kini tersebar di berbagai titik pengungsian, termasuk 4.661 pengungsi di Tapanuli Selatan dan 4.456 di Kota Sibolga.
Akses darat menuju daerah terdampak masih mengalami kelumpuhan. Jalan vital Tarutung-Sibolga baru berhasil dibuka sepanjang 40 kilometer, namun masih belum tembus sepenuhnya. Warga yang terjebak di jalur itu masih menunggu evakuasi, sementara alat berat terus berupaya menyingkirkan material longsor.
BNPB juga mengirimkan bantuan logistik ke sejumlah kabupaten/kota di Sumut, mulai dari makanan siap saji, tenda, selimut, hingga pompa dan perahu. Peralatan tambahan seperti Starlink, light tower, serta alat dapur turut dikerahkan untuk mempercepat penanganan.
Di Aceh, 96 orang dinyatakan tewas dan 75 hilang. Akses ke Banda Aceh, Lhokseumawe, Aceh Utara, Aceh Tamiang, hingga Gayo Lues masih belum pulih. Jalan nasional Bireun, Takengon serta jalur Bener Meriah, Aceh Tengah ikut terputus, membuat sejumlah wilayah hanya bisa ditembus melalui udara. Bantuan empat ton logistik per kabupaten telah dikirimkan, termasuk hygiene kit, baby kit, tenda, hingga perlengkapan penerangan.
Sementara itu di Sumatera Barat, 129 warga meninggal dan 118 masih belum ditemukan. Delapan kabupaten/kota terdampak, dengan fokus pemulihan terpusat di Agam, Solok, dan Pesisir Selatan. Meski lebih stabil dibanding Aceh dan Sumut, pemulihan di Sumbar masih terkendala jembatan putus dan material longsor yang menutup jalur utama.
BNPB menegaskan upaya evakuasi dan pencarian masih berlangsung non-stop di tiga provinsi. Namun kondisi medan, cuaca, dan akses jalan yang terputus membuat penanganan berjalan sangat berat. (***)





