Bento Bergema: Ketika Negara dalam Bayang Bandit

Ilustrasi Bandit Duduk di Meja Kekuasaan. (AI)

Ketika Bandit Duduk di Meja Kekuasaan

Saya masih ingat satu percakapan ringan namun menohok di tahun 2009. Seorang teman, ketua ormas yang dikenal lantang, berkata dengan nada getir,
“Kepemimpinan negeri ini dikelilingi oleh koruptor.”

Bacaan Lainnya

Saya menjawab santai, “Kalau begitu, kamu saja yang maju jadi presiden. Setidaknya kamu akan jadi satu-satunya presiden bertato di dunia.”

Kami tertawa, tapi kemudian terdiam karena fakta yang berbicara. Dunia politik Indonesia, sejak zaman Orde Baru, memang tak pernah benar-benar lepas dari aroma premanisme.

Ian Wilson dalam bukunya Politik Jatah Preman menulis gamblang: kekuasaan di negeri ini sering bergantung pada “kuasa jalanan.”

Pada masa Orde Baru, preman bukan musuh negara, melainkan bagian dari mesin politik. Melalui tangan Ali Moertopo, mereka dipelihara untuk mengamankan suara pemilu dan menjaga stabilitas politik. Namun ketika dianggap tidak lagi berguna atau mengancam, mereka dibereskan lewat serangkaian operasi, termasuk yang dikenal sebagai Operasi Petrus ( penembakan misterius ) yang menargetkan para preman pada 1982–1985. Menyebabkan banyak yang bersembunyi bahkan menghapus tato untuk melindungi diri.

Ironisnya, kini tato justru menjadi bagian dari gaya hidup generasi muda. Tato sebagai simbol yang menandai dosa dan kekerasan, kini dipandang sebagai ekspresi seni dan kebebasan diri. Seolah luka sejarah itu telah dilupakan, berganti menjadi tren yang estetis.Tanpa mengetahui sejarah ketakutan ketika preman bertato menjadi target Petrus.

Dari Jalanan ke Kursi Kekuasaan

Ketika saya menonton serial Narcos di Netflix, kisah Pablo Escobar terasa seperti dongeng kelam tentang bagaimana sebuah negara bisa ditelan sindikat narkoba. Escobar, dengan kekayaan haramnya, bukan hanya menguasai pasar gelap, tetapi juga menembus parlemen. Ia membangun jalan, membagikan uang ke rakyat miskin, bahkan tampil sebagai dermawan. Wajah filantropis dari seorang bandit besar.

Hal serupa tergambar dalam The Godfather. Dunia mafia dibungkus rapi lewat investasi legal: klub malam, perusahaan logistik, hingga donasi sosial. Mereka menyayangi keluarga dan tampak sopan di hadapan publik. Tapi di balik jas mahal dan senyum lembut itu, keputusan mereka bisa menentukan siapa yang hidup dan siapa yang “hilang.”

Pertanyaannya: mungkinkah pola serupa juga hidup di sini. Di negeri yang katanya ramah dan religius? Analogi ini bukan fakta sejarah, melainkan refleksi retoris atas potensi gangsterisasi kekuasaan dan korupsi yang sistemik.

Ketika Kedermawanan Menjadi Topeng

Dalam beberapa kasus korupsi besar, kita sering melihat sosok yang tampil bak dermawan: mendirikan yayasan, membantu panti asuhan, atau menyumbang ke masjid. Namun ketika ditelusuri lebih jauh, tidak jarang dana itu berasal dari proyek tidak transparan, suap, atau hasil kolusi yang dibungkus amal.

Mereka berperan seperti Don Corleone yang menjaga citra, membangun loyalitas, dan membeli kekaguman publik dengan kemurahan hati Kedermawanan menjadi tameng moral yang menutupi aroma busuk kekuasaan.

Dan kita, masyarakat, sering kali terpesona oleh gaya hidup dernawan mereka, lupa bahwa kebaikan yang lahir dari uang kotor hanyalah pertunjukan moral di panggung yang gelap.

Anak Jalanan dan Bayang “Escobar Kecil”

Mafia tidak lahir dari ruang hampa. Mereka tumbuh dari kemiskinan, luka, dan lingkungan yang membiarkan kekerasan menjadi bahasa sehari-hari. Escobar dibesarkan di Medellín yang kumuh. Don Corleone ditempa oleh kerasnya hidup imigran.

Begitu pula di Indonesia, anak-anak yang lahir di jalanan berisiko besar mengulang siklus serupa yaitu geng remaja, pencurian kecil, hingga menjadi “pemain proyek” saat dewasa.

Data Kementerian Sosial (2024) mencatat ada 9.113 anak jalanan di Indonesia, dengan jumlah yang relatif stabil hingga 2025. Namun angka itu kemungkinan jauh dari kenyataan karena banyak anak terlantar tak terhitung, terutama di Jakarta dan kota besar lainnya.

Mereka hidup di bawah jembatan, terminal, dan jalan-jalan kota yang penuh lampu tapi gelap kasih sayang.
Dan jika negara terus absen, siapa yang menjamin tak ada “Escobar kecil” tumbuh dari jalanan?

Negara yang Absen, Mafia yang Hadir

Mencegah kejahatan tak bisa hanya dengan razia atau penertiban. Diperlukan rumah pengasuhan anak dan pendidikan keluarga, serta pemebentukan karakter sejak dini.

Saya sendiri tengah berupaya membangun fasilitas pengasuhan anak dan pendidikan keluarga agar mereka yang lahir dari jalanan memiliki tempat untuk pulang, bukan sekadar bertahan.

Salah satu sumber pendanaan yang layak dipertimbangkan adalah kompensasi dari Belanda atas masa kolonialisme. Tahun 2022, Perdana Menteri Belanda Mark Rutte menyampaikan permintaan maaf resmi atas kekerasan sistematis di masa penjajahan. Permintaan maaf itu semestinya diikuti langkah konkret berupa reparasi sosial.

Mengapa tidak diarahkan untuk perlindungan anak Indonesia? Bukankah luka kolonial juga diwariskan dalam bentuk kemiskinan struktural yang masih kita rasakan?

Kita bisa menuntut keadilan bukan untuk balas dendam, melainkan untuk membangun masa depan anak-anak agar tidak lagi diwarisi dendam sejarah.

Ketika Kita Diam, Mereka Tumbuh

Saya menuliskan ini sebagai peringatan:

Setiap anak yang tak mendapat kasih sayang dan pendidikan berpotensi menjadi bandit.
Setiap warga yang membiarkan korupsi tumbuh berarti sedang memberi pupuk bagi lahirnya mafia baru.
Dan setiap negara yang abai pada moral rakyatnya, sedang menyiapkan generasi penguasa yang haus kuasa tapi miskin nurani.

Seperti kata Don Vito Corleone:

“A man who doesn’t spend time with his family can never be a real man.”
(Seorang laki-laki yang tidak punya waktu untuk keluarganya tidak akan pernah menjadi laki-laki sejati.)

Keluarga adalah benteng terakhir melawan lahirnya mafia baru.
Dan jika negara gagal menjadi keluarga besar yang melindungi rakyatnya, maka banditlah yang akan mengambil peran itu.

Puisi: Bento Bergema, Hitam Putih Preman.

Bento, lagu Iwan Fals menggema,
Gambaran pria tampan, kaya, dan terkenal.
Dikelilingi tahta, harta, dan perempuan,
Tapi darah masih menetes di balik senyum yang menawan.

Hitam putih kehidupan,
Antara kekuasaan dan kejahatan.
Sisi putihku merangkul anak jalanan,
Sisi hitamku mendidik bandit dengan disiplin kebal hukum.

Aku dua sisi mata uang,
Terpantul di meja kasino kekuasaan.
Senyumku ramah, tapi langkahku berdarah.
Aku tumbuh dari dunia premanisme,
Menguasai sistem, menaklukkan moral bangsa.

Kau mencintai bandit dari jalanan,
Yang membangun istana dari air mata dan tangisan.
Dalam pelukanku, kau tidak mencium bau darah,
Hanya parfum kemenangan.

Bogor, 19 Januari 2025

Novita Sari Yahya
Penulis dan Peneliti

Tentang Penulis

Novita Sari Yahya adalah penulis dan peneliti yang menulis dengan gaya satire reflektif. Karyanya banyak mengangkat isu sosial dan kebangsaan. Ia aktif dalam gerakan literasi serta penggagas program Rumah Pengasuhan Anak dan Pendidikan Keluarga untuk memperkuat ketahanan keluarga Indonesia.
Instagram: @novita.kebangsaan
Kontak/WhatsApp: 089520018812

Pos terkait