Kumbanews.com – Langit masih gelap saat Sitimah mulai bersiap meninggalkan rumahnya di Kabupaten Boyolali. Usai salat Subuh, ia menyalakan sepeda motor dan memulai perjalanan panjang menuju SDN 7 Getassrabi, Kabupaten Kudus.
Perjalanan itu bukan sekadar rutinitas biasa. Selama 22 tahun mengabdi sebagai guru, Sitimah rela menempuh jarak sekitar 180 kilometer pulang-pergi setiap hari demi memastikan anak-anak didiknya tetap mendapatkan pendidikan yang layak.
Setiap harinya, Sitimah menghabiskan waktu sekitar empat hingga empat setengah jam di jalan. Untuk sekali perjalanan, ia membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam.
“Kurang lebih saya menghabiskan waktu 4 jam di jalan. Pagi hari saya jalan habis subuh, lalu pulang setelah zuhur dan sampai di rumah pukul 16.00,” ujar Sitimah.
Jarak jauh dan rasa lelah tak pernah membuatnya menyerah. Baginya, profesi guru adalah panggilan hidup yang harus dijalani dengan penuh tanggung jawab.
“Kalau saya melanggar sumpah pegawai, saya merasa beban mental,” ucapnya lirih.
Sitimah memulai karier sebagai guru honorer pada 2004. Saat itu, penghasilannya sangat minim. Bahkan, dua tahun setelah mengajar, ia hanya menerima honor Rp50 ribu per bulan.
“Tahun 2004 saya mulai mengajar. Dua tahun kemudian dapat bayaran Rp50.000 per bulan. Lalu tahun 2008–2010 dapat bayaran Rp220.000,” kenangnya.
Harapan baru datang ketika pemerintah membuka formasi CPNS pada 2010. Setahun kemudian, Sitimah resmi diangkat menjadi CPNS dan ditempatkan di SDN 7 Getassrabi.
Di sekolah tersebut, Sitimah dipercaya menjadi wali kelas 1. Tugas itu bukan perkara mudah karena banyak murid masih berada dalam masa transisi dari PAUD ke sekolah dasar.
Ia pun dengan sabar mendampingi murid-murid yang belum lancar membaca maupun menulis. Bahkan, selepas jam pelajaran selesai, Sitimah kerap memberikan tambahan belajar secara gratis agar tidak ada anak yang tertinggal.
“Saya mengajar anak yang belum bisa membaca atau nelateni yang ketinggalan menulis. Sebelumnya, saya sudah izin kepada orang tua anak,” katanya.
Bagi Sitimah, keberhasilan seorang guru bukan hanya soal nilai akademik, melainkan memastikan seluruh murid bisa berkembang bersama.
Selain mengajar tanpa kenal lelah, Sitimah juga dikenal gemar berbagi. Tambahan penghasilan dari tunjangan profesi guru yang kini cair setiap bulan digunakan untuk membantu anak yatim, kaum duafa, hingga murid dari keluarga kurang mampu.
“Alhamdulillah berkah. Saya bisa tiap tahun menyantuni anak yatim dan duafa, serta bisa ikut kurban di kampung. Terkadang bisa membantu perekonomian murid yang benar-benar minim ekonominya,” tuturnya.
Namun, usia dan kondisi kesehatan mulai menjadi tantangan tersendiri bagi guru berdedikasi itu. Sitimah mengaku berharap bisa dipindahkan ke sekolah yang lebih dekat dengan rumahnya.
“Njih niku, saya ingin mutasi karena kondisi usia dan kesehatan,” ungkapnya pelan.
Ia mengaku sudah dua kali mengajukan mutasi, tetapi belum terealisasi karena sekolah tempatnya mengajar masih kekurangan tenaga pendidik.
Harapan itu kembali muncul ketika Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, mendengar langsung kisah perjuangannya saat kunjungan kerja di Kudus.
Di hadapan jajaran pemerintah daerah, Abdul Mu’ti meminta agar persoalan tersebut segera dicarikan solusi.
“Dilepas saja jika ada sekolah yang sudah bersedia menerima Ibu pindah. Kasihan terlalu jauh,” ujar Abdul Mu’ti.
Kisah Sitimah menjadi gambaran nyata perjuangan banyak guru di Indonesia. Di tengah keterbatasan dan perjalanan panjang yang harus ditempuh setiap hari, ia tetap percaya bahwa menjadi guru adalah bentuk pengabdian untuk masa depan anak bangsa.




