Bakso Juara Mas Fery, Perantau Wonogiri Bertahan 18 Tahun di Makassar

Bakso boom, menu andalan di Warung Bakso Mas Fery, menjadi pilihan favorit pelanggan di lorong Muhajirin II, Makassar. Setiap butir bakso dibuat sendiri oleh Mas Fery dengan prinsip menjaga rasa dan kualitas. (Screenshot)

Kumbanews.com – Di sebuah lorong kecil di Jalan Muhajirin II No.2, Kelurahan Mangasa, Kecamatan Tamalate, Makassar, Warung Bakso Mas Fery menjadi pusat usaha bagi perantau asal Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Ia menggantungkan hidup dari dagang bakso yang dijalaninya bertahun-tahun, dengan satu prinsip sederhana: usaha kecil hanya bisa bertahan jika dijalani dengan kesabaran.

Perjalanan Mas Fery tidak singkat. Ia memulai usaha bakso sejak 2008 dengan berjualan keliling menggunakan gerobak, menyusuri kawasan sekitar dari pagi hingga malam. Hampir satu dekade menjalani pola hidup yang sama, hingga pada 2018 ia memutuskan berhenti berkeliling dan membuka warung tetap di lorong tersebut. Hingga kini, warung ini telah bertahan selama delapan tahun, menjadi bukti ketekunan Fery menjaga usahanya.

Bacaan Lainnya

Jauh sebelum itu, Fery sudah mengenal kerasnya hidup di tanah rantau. Ia datang ke Makassar pada awal 2000-an dan sempat bekerja sebagai sopir pete-pete (angkot). Dari penghasilan itulah ia menabung sedikit demi sedikit hingga mampu membeli motor, yang kemudian membantunya bertahan dan melangkah ke usaha sendiri.

Di Warung Bakso Mas Fery, menu andalan dikenal dengan sebutan bakso boom, dijual seharga Rp14.000 per porsi. Selain itu, pelanggan juga bisa memesan pangsit seharga Rp12.000. Seluruh bahan baku diolah sendiri. Bagi Fery, menjaga cita rasa bukan sekadar strategi usaha, melainkan prinsip yang terus ia pegang sejak pertama kali berjualan.

Prinsip itu pula yang membuatnya kerap gelisah. Ia mengaku sedih ketika melihat bakso racikannya tidak dihabiskan pelanggan. Dalam situasi seperti itu, ia memilih berkaca pada diri sendiri.

“Kadang saya sedih kalau ada pelanggan yang tidak menghabiskan baksonya. Di situ saya berpikir, apa yang kurang dari rasa bakso saya. Karena saya selalu berprinsip menjaga rasa agar pelanggan merasa puas,” tuturnya lirih.

Penjualan bakso tidak selalu berjalan mulus. Ada hari-hari ramai pembeli, namun ada pula masa sepi. Usaha ini menjadi satu-satunya sumber penghidupan bagi keluarganya.

Dari ketekunan itu, perlahan hasil mulai terlihat. Fery akhirnya mampu membeli rumah di kampung halamannya di Wonogiri. Bagi Fery, rumah itu menjadi penanda bahwa kerja panjangnya selama bertahun-tahun tidak sia-sia.

Meski begitu, ia tidak berhenti bermimpi. Fery masih berharap usahanya terus berkembang dan bercita-cita membeli rumah di Makassar, kota tempat ia menghabiskan sebagian besar hidup dan perjuangannya.

Saat ini, Fery mengelola Warung Bakso Mas Fery bersama tujuh karyawan yang seluruhnya berasal dari Wonogiri. Ia tidak memiliki rencana membuka cabang atau menambah menu. Fokusnya tetap pada menjaga kualitas rasa dan mempertahankan usaha yang telah ia bangun.

Bagi Fery, memulai usaha kuliner bukan perkara cepat berhasil. Kesabaran dan optimisme menjadi modal utama untuk bertahan.

“Kalau mau usaha kuliner, harus sabar dan tetap optimis. Jangan cepat menyerah,” katanya.

Perjalanan Mas Fery memperlihatkan bahwa ketekunan yang dijalani perlahan dapat membawa seorang perantau bertahan dan menata harapan dari usaha kecil yang ia rawat setiap hari.

 

 

Editor: Fyla Abdul

Pos terkait