Kumbanews.com – Sore itu arus kendaraan di Jalan Metro Tanjung Bunga kembali padat. Klakson saling bersahutan, pengendara berebut melintas menuju arah Jembatan Barombong. Di tengah situasi itu, seorang remaja tampak berdiri di pinggir jalan sambil meniup peluit kecil dan memberi aba-aba kepada pengendara.
Remaja itu bernama Fadli. Ia masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah (MTs), namun hampir setiap hari turun membantu mengatur arus lalu lintas di kawasan tersebut.
Sepulang sekolah, Fadli berjalan dari kawasan Rajawali menuju titik kemacetan dekat Jembatan Barombong. Kadang ia mendapat tumpangan dari pengendara yang melintas, tetapi lebih sering berjalan kaki demi tiba sebelum kondisi jalan semakin semrawut.
Dengan gerakan sederhana, Fadli membantu kendaraan melintas bergantian agar kemacetan tidak semakin panjang. Kehadirannya bahkan sudah dikenal sejumlah petugas Dinas Perhubungan yang bertugas di lokasi.
“Dia bukan Pak Ogah,” ujar salah seorang petugas Dishub.
Kalimat itu menggambarkan ketulusan Fadli. Ia tidak meminta uang dari pengendara. Ia datang karena merasa ingin membantu.
Di usianya yang masih belia, Fadli juga sudah merasakan kerasnya jalanan. Ia pernah dibentak pengendara yang tidak sabar, dimarahi saat mencoba menertibkan arus kendaraan, bahkan nyaris tertabrak ketika kemacetan memuncak.
Namun pengalaman itu tidak membuatnya berhenti.
Setiap sore, Fadli tetap datang ke lokasi yang sama. Ia berdiri di tengah padatnya kendaraan sambil membantu pengendara melintas lebih tertib.
Di tengah banyak orang memilih mengeluhkan kemacetan, Fadli justru mengambil peran kecil yang memberi manfaat bagi orang lain. Tanpa seragam resmi dan tanpa bayaran, ia menunjukkan bahwa kepedulian masih tumbuh di sudut-sudut jalan Kota Makassar.
Langkahnya memang sederhana. Namun dari simpang Metro Tanjung Bunga itu, Fadli mengajarkan bahwa membantu sesama tidak selalu membutuhkan jabatan ataupun penghargaan.





