Dolar AS Perkasa, Inflasi dan Spekulasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Tekan Mata Uang Dunia

Ilustrasi penguatan dolar Amerika Serikat di tengah lonjakan inflasi dan meningkatnya spekulasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve pada 2026.

Kumbanews.com – Dolar Amerika Serikat (AS) mencatat penguatan tajam dan bersiap menorehkan kenaikan mingguan terbesar dalam lebih dari dua bulan. Lonjakan inflasi akibat kenaikan harga energi memicu spekulasi bahwa bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), bakal kembali menaikkan suku bunga pada 2026.

Penguatan dolar terjadi seiring naiknya imbal hasil obligasi pemerintah AS ke level tertinggi dalam satu tahun. Pelaku pasar mulai memperkirakan The Fed akan mengambil langkah agresif untuk menahan tekanan inflasi yang terus meningkat.

Bacaan Lainnya

Mengutip Yahoo Finance, Jumat (15/5/2026), indeks dolar AS sempat menyentuh level tertinggi lebih dari satu bulan di angka 99,29 sebelum akhirnya sedikit melemah. Meski begitu, dolar tetap menguat sekitar 1,2 persen sepanjang pekan ini. Angka itu menjadi kenaikan mingguan terbesar sejak awal Maret 2026.

Strategis valuta asing ING, Francesco Pesole, mengatakan penguatan dolar dipicu data ekonomi AS yang masih solid di tengah ketidakpastian global.

“Dolar mengejar data ekonomi kuat yang terlihat sepanjang pekan ini,” ujarnya.

Ia menilai Amerika Serikat berada dalam posisi lebih baik dibanding banyak negara lain di tengah krisis energi global yang sedang berlangsung.

Data ekonomi terbaru menunjukkan penjualan ritel AS kembali meningkat pada April 2026. Selain itu, klaim pengangguran mingguan juga masih stabil, menandakan pasar tenaga kerja tetap kuat.

Berdasarkan CME FedWatch, investor kini melihat peluang lebih dari 55 persen bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember 2026. Angka itu melonjak tajam dibanding peluang kurang dari 20 persen sepekan lalu.

Euro, Yen dan Poundsterling Melemah

Penguatan dolar AS membuat sejumlah mata uang utama dunia tertekan.

Euro sempat jatuh ke level terendah dalam satu bulan di USD 1,1617 sebelum sedikit pulih. Mata uang kawasan Eropa itu diperkirakan melemah sekitar 1,1 persen sepanjang pekan ini.

Sementara itu, yen Jepang bergerak tipis di atas level 158 per dolar AS. Kondisi itu terjadi meski inflasi grosir Jepang melonjak dan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral Jepang pada Juni mendatang.

Poundsterling Inggris juga mengalami tekanan berat. Mata uang Inggris itu turun ke posisi terlemah dalam lima minggu terhadap dolar AS dan berpotensi mencatat penurunan mingguan terbesar sejak November 2024.

Tekanan terhadap poundsterling dipicu situasi politik Inggris setelah Perdana Menteri Keir Starmer menghadapi tekanan usai hasil buruk pemilu lokal pekan lalu.

Pasar juga khawatir munculnya tokoh baru seperti Andy Burnham atau Angela Rayner dapat mendorong kebijakan fiskal yang lebih longgar.

Poundsterling terakhir tercatat turun 0,2 persen ke posisi USD 1,3378 dan melemah 1,9 persen sepanjang pekan ini.

Pertemuan Trump dan Xi Jadi Sorotan

Di sisi lain, pasar keuangan global nyaris tidak bereaksi terhadap pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping yang berlangsung selama dua hari di Beijing.

Dalam pertemuan itu, China memperingatkan AS agar tidak salah langkah terkait Taiwan. Kedua pemimpin juga menegaskan tidak ingin Iran memiliki senjata nuklir.

Yuan China ikut tertekan akibat penguatan dolar secara luas. Yuan domestik tercatat berada di level 6,8021 per dolar AS, sedangkan yuan offshore turun 0,3 persen ke level 6,8067.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyebut Teheran menerima pesan dari AS terkait kelanjutan pembicaraan diplomatik. Namun Iran menegaskan hanya akan melanjutkan negosiasi jika Washington menunjukkan keseriusan.

 

 

Pos terkait