Kumbanews.com – Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan (year on year/YoY). Capaian ini dinilai cukup positif karena lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani, menilai pertumbuhan tersebut masih banyak ditopang sektor berbasis konsumsi domestik serta momentum musiman seperti libur panjang dan meningkatnya mobilitas masyarakat.
“Jika melihat struktur pertumbuhan, sektor yang paling diuntungkan berasal dari konsumsi domestik dan faktor musiman,” ujar Shinta, Sabtu (10/5/2026).
Sejumlah sektor tercatat tumbuh cukup tinggi. Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum melesat hingga 13,14 persen. Transportasi dan pergudangan tumbuh 8,04 persen, sementara jasa kesehatan dan kegiatan sosial naik 7,62 persen. Adapun perdagangan besar dan eceran tumbuh 6,26 persen.
Menurut Shinta, lonjakan aktivitas masyarakat selama musim libur menjadi pendorong utama pertumbuhan di berbagai sektor tersebut.
Namun, kondisi berbeda justru terjadi di sektor manufaktur yang selama ini menjadi tulang punggung industri nasional. Secara tahunan, industri manufaktur hanya tumbuh 5,04 persen atau masih berada di bawah rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional. Bahkan secara kuartalan, sektor ini mengalami kontraksi sebesar 1,01 persen.
Dari 16 subsektor manufaktur, sebanyak 10 subsektor tumbuh di bawah rata-rata nasional dan empat subsektor mengalami kontraksi. Beberapa di antaranya yakni industri karet dan plastik minus 9,01 persen, alat angkutan minus 5,02 persen, pengolahan tembakau minus 4,05 persen, serta industri kayu dan turunannya minus 0,02 persen.
Shinta menyoroti industri plastik sebagai salah satu sektor yang paling terdampak. Kenaikan harga naphtha lebih dari 92 persen sejak awal tahun ikut memicu lonjakan harga bahan baku plastik hingga sekitar 80 persen.
Akibatnya, harga produk ikut meningkat lebih dari 50 persen, bahkan mencapai 100 persen pada beberapa segmen tertentu seperti kemasan UMKM.
“Kondisi ini menjadi contoh nyata imported inflation dan tekanan biaya produksi akibat pelemahan rupiah serta ketegangan geopolitik global,” katanya.
Meski demikian, tidak semua subsektor manufaktur mengalami tekanan. Industri mesin dan perlengkapan justru tumbuh tinggi mencapai 21,93 persen. Sementara industri barang logam, komputer, elektronik, dan optik tumbuh 10,35 persen.
Di sisi lain, dunia usaha menilai manfaat pertumbuhan ekonomi belum dirasakan merata. Apindo menyebut terjadi ketimpangan distribusi manfaat pertumbuhan di lapangan.
Menurut Shinta, kondisi tersebut mencerminkan fenomena asymmetric impact of growth, yakni pertumbuhan ekonomi tetap terjadi secara agregat, tetapi belum sepenuhnya dirasakan pelaku usaha karena tekanan biaya terus meningkat.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada kuartal I 2026. Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menyebut pertumbuhan itu ditopang Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku sebesar Rp6.187,2 triliun.
Meski tumbuh positif secara tahunan, ekonomi Indonesia tercatat mengalami kontraksi 0,77 persen secara kuartalan atau quarter to quarter (qtq).





