Kumbanews.com – Para mantan pimpinan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias menilai bencana banjir dan longsor yang melanda Sumatera pada akhir November 2025 memiliki skala kerusakan lebih luas dibanding tsunami Aceh 2004. Dengan wilayah terdampak yang menjangkau Aceh, Sumut, dan Sumbar, mereka menyebut krisis ini membutuhkan kepemimpinan dan respons negara yang jauh lebih kuat.
Data BNPB per 4 Desember mencatat hampir 900 korban meninggal, 500 hilang, serta jutaan warga mengungsi. Infrastruktur vital, mulai listrik, komunikasi, hingga akses logistik, mengalami kerusakan masif.
Eks Deputi BRR Aceh-Nias, Sudirman Said, menegaskan luas landaan bencana 2025 telah melampaui tsunami 2004. “Jika dipetakan, area terdampaknya setara dengan Jawa-Madura-Bali,” ujarnya.
Eks Direktur Hubungan Luar Negeri & Donor BRR, Heru Prasetyo, menyebut kombinasi krisis ini sebagai “tsunami Aceh, Covid-19, Lapindo, dan perubahan iklim” yang terjadi bersamaan. Menurutnya, tantangan kali ini tidak hanya menyangkut manajemen bencana alam, tetapi juga kerusakan lingkungan dan risiko berantai lainnya. “Kita membutuhkan leadership yang jauh lebih dalam,” tegasnya.
Sudirman mengingatkan pesan mantan Kepala BRR, Kuntoro Mangkusubroto, agar seluruh pihak menjaga integritas dalam proses penanganan. “Tidak ada kekuatan yang mampu membuat kerusakan seperti ini kecuali tangan Tuhan. Maka jangan kotori tanganmu dengan tindakan yang tidak terpuji,” katanya.
Eks pimpinan BRR lainnya, William Sabandar, Amin Subekti, Avi Mahaningtyas, dan Nannie Hudawati—menyoroti perlunya crisis mindset, kecepatan kerja, fleksibilitas birokrasi, serta kepemimpinan lapangan. Mereka menegaskan pemulihan Aceh-Nias dulu berhasil karena dua prinsip: speed dan flexibility.
Para narasumber sepakat bahwa situasi genting ini harus menjadi momentum untuk membangun kolaborasi besar antara pemerintah, lembaga donor, masyarakat sipil, dan dunia usaha.
“Jangan sampai nanti terlalu terlambat dan terlalu sedikit. Ide sudah ada, pengalaman juga ada. Yang kurang hanya otoritas,” pungkas Sudirman.
Sarasehan daring ini digelar oleh Institut Harkat Negeri, Nalar Institute, CIPG, Institut Deliverologi Indonesia, dan BRR Institute. (***)





