Epstein Files: Ribuan Dokumen Ditarik Usai Identitas Korban Terungkap

Dokumen dari berkas Jeffrey Epstein yang dirilis Kementerian Kehakiman Amerika Serikat difoto pada Jumat, 2 Januari 2026. (Dok. AP/Jon Elswick, arsip)

Kumbanews.com – Kementerian Kehakiman Amerika Serikat (Department of Justice/DOJ) menarik ribuan dokumen terkait kasus Jeffrey Epstein yang sempat dirilis ke publik setelah kesalahan redaksi mengakibatkan terungkapnya identitas puluhan korban.

Dokumen yang dipublikasikan pada Jumat (30/1/2026) tersebut masih memuat informasi pribadi, seperti alamat email dan foto, sehingga memungkinkan korban dikenali. Akibatnya, hampir 100 penyintas terdampak langsung.

Bacaan Lainnya

Para pengacara korban menilai kesalahan itu telah “membalikkan kehidupan” para penyintas. Dalam pernyataan bersama, mereka menyebut pengungkapan informasi pribadi tersebut sebagai tindakan “keterlaluan” yang memicu trauma ulang bagi korban.

DOJ mengakui insiden tersebut terjadi akibat “kesalahan teknis atau kesalahan manusia”. Seluruh dokumen bermasalah telah diturunkan dari situs resmi untuk dilakukan redaksi ulang. Dalam surat kepada hakim federal pada Senin, DOJ menyatakan telah menghapus semua dokumen yang diminta korban untuk diperbaiki.

“Kami terus meninjau permintaan baru dan memeriksa apakah masih ada dokumen lain yang memerlukan redaksi tambahan,” demikian pernyataan DOJ, seperti dikutip BBC.

Sebelumnya, dua pengacara korban, Brittany Henderson dan Brad Edwards, meminta hakim federal di New York memerintahkan DOJ menutup sementara situs web yang memuat dokumen tersebut. Mereka menyebut rilis itu sebagai “pelanggaran privasi korban paling parah dalam satu hari sepanjang sejarah Amerika Serikat”.

Sejumlah korban mengaku menerima ancaman setelah data pribadi mereka tersebar. Salah seorang korban menyebut rilis dokumen itu sebagai “ancaman terhadap nyawa”, sementara korban lainnya mengaku mendapat ancaman pembunuhan setelah informasi perbankannya terungkap.

Suara Korban

Penyintas Epstein, Annie Farmer, mengatakan kepada BBC pada Selasa (3/2) bahwa dampak kebocoran identitas membuat korban sulit memproses informasi baru yang sebenarnya penting untuk pengungkapan kasus.

“Kami merasa seperti sedang dipermainkan, tetapi kami tidak akan berhenti berjuang,” ujar korban lainnya, Lisa Phillips, kepada program BBC Newsday.

Pengacara hak-hak perempuan Gloria Allred, yang mewakili banyak korban Epstein, mengungkapkan bahwa sejumlah nama korban yang sebelumnya tidak pernah dipublikasikan ikut terungkap.

“Dalam beberapa kasus, nama korban hanya digaris, tetapi masih bisa dibaca. Dalam kasus lain, foto korban yang tidak pernah tampil ke publik justru ditampilkan,” katanya.

Juru bicara DOJ menegaskan pihaknya “sangat serius dalam melindungi korban” dan telah menyunting ribuan nama dalam jutaan halaman dokumen. Menurut DOJ, hanya sekitar 0,1 persen dari halaman yang dirilis masih mengandung informasi yang belum disunting dengan benar.

Sejak tahun lalu, setelah Kongres AS mengesahkan undang-undang yang mewajibkan publikasi berkas, DOJ telah merilis jutaan dokumen terkait Epstein, termasuk sekitar tiga juta halaman arsip, 180.000 gambar, dan 2.000 video. Rilis terakhir dilakukan enam minggu setelah tenggat waktu yang ditetapkan dalam undang-undang yang ditandatangani Presiden Donald Trump.

Jeffrey Epstein, yang pernah dihukum atas kejahatan seksual terhadap anak pada 2008, ditemukan tewas di sel penjara New York pada 10 Agustus 2019 saat menunggu persidangan atas dugaan perdagangan seks anak dan konspirasi kejahatan serupa.

Pos terkait