Garuda Indonesia Gas Pol Transformasi, Layanan Digital hingga Operasional Dibenahi Usai Tembus 25 Besar Dunia

Pesawat Garuda Indonesia saat bersiap lepas landas, mencerminkan upaya transformasi layanan dan operasional perusahaan. (Ilustrasi)

Kumbanews.com – PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk terus menggeber transformasi layanan dan operasional usai menembus daftar maskapai terbaik dunia versi AirlineRatings.com 2026. Maskapai pelat merah ini kini fokus membenahi layanan secara menyeluruh, mulai dari kabin hingga digitalisasi.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny Kairupan menegaskan, pencapaian masuk 25 besar The World’s Best Full-Service Airlines 2026 menjadi sinyal positif atas progres transformasi yang dijalankan perusahaan.

Bacaan Lainnya

“Di tengah dinamika industri penerbangan global yang penuh tantangan, pencapaian ini menjadi sinyal positif yang mencerminkan progres transformasi perusahaan,” ujar Glenny, Senin (4/5/2026).

Garuda Indonesia tercatat sebagai satu-satunya maskapai asal Indonesia yang berhasil masuk dalam daftar tersebut, dengan menempati posisi ke-24 dunia.

Namun, Glenny menegaskan pembenahan tidak berhenti pada layanan kabin. Perusahaan kini memperluas fokus ke sektor operasional, layanan darat, hingga penguatan digital agar pengalaman penumpang semakin optimal.

“Garuda Indonesia berkomitmen mengakselerasi transformasi kinerja, tidak hanya pada layanan menyeluruh, tetapi juga optimalisasi operasional dan pengembangan digitalisasi layanan secara berkelanjutan,” jelasnya.

Menurutnya, pembenahan yang tengah disiapkan mencakup peningkatan standar layanan kabin, fasilitas lounge, layanan darat, hingga sistem hiburan dalam penerbangan.

Kinerja Keuangan Masih Rugi, Tapi Menyusut

Di sisi lain, kinerja keuangan Garuda Indonesia pada kuartal I 2026 menunjukkan tren beragam. Perseroan mencatat pendapatan meningkat, meski masih membukukan kerugian.

Berdasarkan laporan keuangan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia, pendapatan Garuda mencapai USD 762,35 juta atau naik 5,39% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD 723,56 juta.

Kontribusi terbesar berasal dari penerbangan berjadwal yang tumbuh 7,35% menjadi USD 648,10 juta. Sementara penerbangan tidak berjadwal justru turun 34,19% menjadi USD 24,98 juta.

Beban usaha tercatat turun tipis menjadi USD 713,22 juta. Namun, perseroan masih membukukan rugi bersih sebesar USD 46,48 juta hingga Maret 2026. Meski demikian, angka tersebut menyusut 39,2% dibandingkan rugi periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD 76,49 juta.

Selain itu, Garuda juga mencatat kenaikan pendapatan keuangan menjadi USD 9,13 juta, sementara rugi selisih kurs mencapai USD 1,39 juta.

Transformasi Jadi Kunci Pemulihan

Manajemen menilai, langkah percepatan transformasi menjadi kunci pemulihan kinerja ke depan, terutama di tengah tekanan industri penerbangan global.

Dengan pembenahan yang semakin luas, Garuda Indonesia berharap mampu meningkatkan daya saing sekaligus memperbaiki pengalaman pelanggan secara berkelanjutan.

Pos terkait