Kumbanews.com – Ketegangan di Timur Tengah memasuki babak baru. Iran resmi menutup Selat Hormuz menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel ke wilayahnya. Dampaknya langsung terasa di pasar global: harga minyak dunia melonjak tajam dan pelayaran internasional terganggu.
Pada pembukaan perdagangan Asia, Senin (2/3/2026), harga minyak mentah Brent di London naik menjadi 80 dolar AS per barel. Angka itu melonjak sekitar 13 persen dibandingkan harga penutupan Jumat (27/2/2026) yang berada di level 72,87 dolar AS per barel.
Lonjakan harga ini dipicu kekhawatiran pasar atas terganggunya pasokan minyak global. Selat Hormuz selama ini menjadi jalur vital distribusi energi dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global melintasi perairan strategis tersebut setiap hari.
Penutupan jalur ini membuat sejumlah kapal tanker menghentikan operasinya. Beberapa armada dilaporkan memilih sandar di kawasan Teluk Persia untuk menghindari risiko keamanan. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan terganggunya rantai pasok global, termasuk distribusi energi ke Asia dan Eropa.
Ketegangan meningkat setelah eskalasi serangan antara Iran dan koalisi Amerika Serikat–Israel. Situasi keamanan yang belum stabil membuat pelayaran komersial menahan pergerakan hingga ada kepastian kondisi di lapangan.
Analis energi menilai, jika penutupan berlangsung lama, tekanan terhadap harga minyak berpotensi berlanjut.
Bukan hanya sektor energi yang terdampak, tetapi juga biaya logistik, inflasi global, hingga stabilitas ekonomi negara-negara pengimpor minyak.
Sejumlah negara kini memantau perkembangan secara ketat. Pasar menunggu respons diplomatik maupun militer yang bisa menentukan arah konflik dalam beberapa hari ke depan.
Penutupan Selat Hormuz kembali menegaskan betapa sensitifnya jalur tersebut terhadap dinamika geopolitik. Sedikit saja gangguan, dampaknya bisa merambat cepat ke seluruh perekonomian dunia.





