Kerasnya Kehidupan di Era Digital: Antara Peluang dan Ancaman AI

Ilustrasi

Kumbanews.com – Kehidupan di era digital semakin hari semakin kompleks. Kemajuan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), di satu sisi menghadirkan banyak kemudahan, namun di sisi lain juga membawa ancaman serius bagi keberlangsungan lapangan kerja manusia.

Bacaan Lainnya

Berbagai sektor kini mulai memanfaatkan AI untuk meningkatkan efisiensi. Dunia perbankan perlahan mengurangi ketergantungan pada layanan kasir, industri media sudah mengandalkan robot penulis untuk memproduksi berita, bahkan sektor kesehatan, hukum, hingga pendidikan tak luput dari sentuhan teknologi pintar yang mampu bekerja cepat, presisi, dan tanpa lelah.

Namun perkembangan ini menimbulkan tanda tanya besar. Apakah manusia masih akan tetap dibutuhkan dalam skala besar di dunia kerja?
Organisasi Buruh Internasional (ILO) memperkirakan jutaan pekerjaan berisiko digantikan oleh mesin cerdas dalam dekade mendatang. Posisi dengan tugas repetitif seperti operator, staf administrasi, hingga pekerja manufaktur dianggap paling rentan.

Meski demikian, tak semua profesi akan hilang begitu saja. Justru, muncul peluang baru seperti spesialis data, pengembang sistem AI, hingga konsultan etika teknologi. Persoalannya, tidak semua orang siap beradaptasi.

Refleksi Kehidupan di Tengah Gelombang AI

Jika ditarik ke ranah yang lebih personal, hadirnya AI sering kali menimbulkan rasa cemas. Bayangkan, manusia yang bekerja keras bertahun-tahun bisa tiba-tiba tersisih hanya karena mesin bisa melakukannya lebih murah dan lebih cepat.

Pertanyaan sederhana lalu muncul: ke mana para pekerja yang tergantikan harus melangkah? Bagaimana nasib mereka yang usianya tak lagi muda, atau yang hidup jauh dari akses pendidikan digital?

Kerasnya kehidupan di era AI ibarat “seleksi alam” baru. Mereka yang mampu beradaptasi akan bertahan, bahkan berkembang. Tetapi bagi yang tertinggal, risiko tersisih makin nyata.

Pada akhirnya, kita tidak bisa menolak hadirnya AI. Sama seperti listrik dan internet, teknologi ini akan terus tumbuh menjadi bagian dari keseharian. Yang bisa kita lakukan hanyalah menyiapkan diri: memperkuat kemampuan berpikir kritis, mengasah kreativitas, serta mengembangkan keahlian yang tak bisa sepenuhnya digantikan mesin.

Era digital memang penuh tantangan. Namun, barangkali inilah waktunya kita menyadari bahwa masa depan bukan hanya milik mereka yang pintar, tetapi milik mereka yang mau terus belajar dan beradaptasi. (**)

Pos terkait