Kisah IPTU Firman: Dari Anak Kampung, Pengungkap Kasus Besar, hingga Suami yang Setia

Di sela kesibukan menegakkan hukum sebagai Kasat Narkoba Polres Gowa, hati tetap seirama dengan keluarga. Bersama Iis, setiap langkah menjadi lebih ringan, setiap senyum lebih bermakna. (Foto dokumentasi IPTU Firman).

Kumbanews.com – Di balik sosok tegas IPTU Firman, S.H., M.H., Kasat Narkoba Polres Gowa, tersimpan perjalanan panjang dan penuh kerja keras. Perwira menengah Polri ini dikenal sebagai sosok disiplin, rendah hati, dan berdedikasi tinggi dalam menjalankan tugas memberantas kejahatan narkotika.

Sebelum bertugas di Polres Gowa, karier kepolisian IPTU Firman dimulai di Polres Selayar pada tahun 2018. Saat itu, ia menjabat sebagai Wakil Kasat Narkoba selama kurang lebih sepuluh bulan. Tahun 2019, ia dipercaya menempati posisi Kanit Tipiter Polres Takalar selama satu tahun.

Bacaan Lainnya

Setelah mengikuti pendidikan pengembangan kejuruan perwira di Puslitbang Polri, ia kembali ke Polres Takalar dan ditempatkan di Satuan Intelijen sebagai Kepala Unit Pengamanan dan Pengawasan Intelijen (Kanit Pamnat). Berbekal pengalaman dan latar belakang di bidang narkoba, pada tahun 2020 ia ditarik kembali menjadi Kepala Bagian Operasional (KBO) Satnarkoba Polres Takalar hingga 2024.

Dedikasinya membuahkan hasil. Selama menjabat KBO, IPTU Firman mencatat sejarah pengungkapan kasus narkotika terbesar di Polres Takalar, sebanyak enam bal sabu dengan nilai ratusan juta rupiah. Atas prestasi itu, ia mendapat penghargaan langsung dari Kapolres Takalar saat itu, AKBP Gotam Hidayat, S.I.K., M.Si.

Selain kasus narkoba, IPTU Firman juga dikenal berani dalam mengungkap kasus tambang dan kosmetik ilegal di wilayah hukumnya. “Dalam setiap pengungkapan pasti ada kendala, tapi yang terpenting adalah profesional dan bekerja dengan hati,” ujarnya.

Tahun 2024, ia mendapat promosi ke Polres Toraja Utara dan bertugas selama enam bulan, sebelum akhirnya dipindahkan ke Polres Gowa pada Juni 2025 untuk memimpin Satuan Narkoba.

Namun di balik ketegasannya sebagai aparat penegak hukum, IPTU Firman adalah pribadi yang hangat dan penuh kasih terhadap keluarga. Ia mengaku keluarganya adalah sumber semangat dan alasan terbesarnya untuk terus berbuat baik.

“Orang yang baik bukan karena banyak uang atau hartanya, tapi karena ia memberi manfaat bagi orang lain. Kebaikan itu akan kembali kepada diri kita sendiri,” ucapnya.

Lahir dan besar di kampung sederhana di Kabupaten Bone, Firman mengaku tidak pernah menyangka bisa menjadi polisi. Selepas SMA, ia sempat merantau dua tahun, setahun di Kalimantan dan setahun di Kendari, tanpa arah pasti. Namun takdir berkata lain, saat seorang pamannya menawarkan untuk mencoba mendaftar sebagai anggota Polri.

“Saya dulu hanya anak kampung, tidak punya harapan besar. Tapi saya percaya, asal hati baik dan silaturahmi dijaga, rezeki akan datang dengan caranya sendiri,” tuturnya.

Momen hangat kebersamaan IPTU Firman bersama istri dan anak-anaknya saat liburan, menutup hari dengan tawa, cinta, dan kenangan tak terlupakan. (Foto dokumentasi IPTU Firman).

Kini, bersama sang istri tercinta, Iis, dan dua anaknya Amirah (14) yang duduk di bangku SMP dan Afid (10) yang masih SD. Firman menjalani hidup sederhana penuh makna. Ia dikenal romantis, penyayang keluarga, dan selalu berusaha membahagiakan orang-orang terdekatnya.

“Ketika ada masalah, keluarga tempat kita kembali. Istri itu yang paling mengerti, jadi bahagiakan dia,” katanya tersenyum.

 

 

Editor: M. Yusuf

Pos terkait