KJRI San Francisco Promosikan Tempe ke Komunitas Vegan AS, Didorong Jadi Warisan UNESCO

Kegiatan promosi tempe oleh KJRI San Francisco yang diikuti komunitas vegan dan pegiat kuliner Amerika Serikat dalam acara pengenalan budaya pangan Indonesia. (Antara)

Kumbanews.com – Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) San Francisco terus mempromosikan tempe sebagai warisan kuliner Nusantara kepada masyarakat internasional. Kali ini, promosi dilakukan melalui acara bertajuk From Tempeh to Table: An Indonesian Vegan Superfood Cooking Experience yang diikuti sekitar 140 peserta dari komunitas vegan dan pegiat kuliner di San Francisco, Amerika Serikat.

Kegiatan tersebut menghadirkan berbagai rangkaian acara, mulai dari pengenalan sejarah dan budaya tempe, lokakarya pembuatan tempe, demonstrasi masakan vegan khas Indonesia, hingga jamuan makan siang berbahan dasar tempe dan kuliner nabati Nusantara.

Konsul Jenderal RI di San Francisco, Yohpy Ichsan Wardana, mengatakan tempe bukan sekadar makanan sehari-hari, tetapi bagian penting dari warisan budaya Indonesia yang lahir dari tradisi fermentasi lokal dan diwariskan lintas generasi.

“Tempe adalah contoh indah pertemuan antara kekayaan hayati dan kebudayaan. Di dalamnya ada kedelai, jamur Rhizopus oligosporus, dan tradisi fermentasi yang telah lama hidup dalam masyarakat Indonesia,” ujar Yohpy, dikutip dari Antara, Selasa (12/5/2026).

Ia juga menyoroti hubungan erat Indonesia dan Amerika Serikat dalam perjalanan tempe. Menurutnya, sebagian besar kedelai untuk produksi tempe di Indonesia berasal dari petani Amerika Serikat, sementara teknik pengolahan tempe berasal dari budaya pangan Indonesia yang kini semakin dikenal di Negeri Paman Sam.

“Tempe menjadi simbol persahabatan kedua bangsa. Pangan bisa mempertemukan budaya, negara, dan masyarakat,” katanya.

Acara tersebut berlangsung di tengah upaya Pemerintah Indonesia mendorong budaya pembuatan tempe masuk dalam Daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO.

Pemerintah berharap keputusan terkait nominasi itu dapat diumumkan tahun ini. Pengakuan UNESCO dinilai penting untuk memperkuat posisi tempe sebagai pangan sehat, berkelanjutan, dan berbasis budaya komunitas.

Dukungan terhadap nominasi tersebut juga datang dari San Francisco Vegan Society (SFVS). Wakil Presiden SFVS, Ravinder Sehgal, menilai budaya pembuatan tempe layak mendapat pengakuan dunia karena memiliki nilai kesehatan, budaya, dan keberlanjutan.

Pos terkait