Kumbanews.com – Jumlah korban tewas akibat gelombang aksi protes massal di Iran kini dilaporkan telah melampaui 4.000 orang. Human Rights Group Activist News Agency menyebutkan, per Senin (19/1), korban tewas yang terkonfirmasi mencapai 4.029 orang, sementara lebih dari 9.000 kasus kematian masih dalam proses verifikasi.
Lonjakan korban terjadi cepat. Hanya beberapa hari sebelumnya, Sabtu (17/1), jumlah korban tewas baru saja melewati angka 3.000. Selain itu, lebih dari 5.800 orang mengalami luka berat, dan 26.000 warga ditangkap selama aksi protes.
Pemerintah Iran belum merilis angka resmi. Namun otoritas di Teheran mengakui ribuan orang meninggal sejak protes meluas, yang dipicu oleh memburuknya kondisi ekonomi nasional. Aparat keamanan merespons dengan tindakan keras, termasuk pemutusan akses internet untuk membatasi arus informasi.
Di tengah meningkatnya korban, sekelompok peretas berhasil mengganggu siaran televisi pemerintah pada Senin. Tayangan itu mendukung putra mahkota Iran di pengasingan, Reza Pahlavi, yang menyerukan perlawanan terhadap rezim, dan menyampaikan pesan kepada militer:
“Jangan arahkan senjata kalian kepada rakyat. Bergabunglah dengan bangsa untuk kebebasan Iran.”
Presiden AS Donald Trump menanggapi, menyerukan perubahan kepemimpinan di Iran dan menegaskan pemimpin harus fokus menjalankan negara, bukan membunuh rakyat sendiri. Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menegaskan pemerintah telah mengendalikan situasi dan menuding AS sebagai aktor di balik kerusuhan.
“Kami tidak berniat membawa negara ini menuju perang. Namun, penjahat internal maupun internasional tidak akan kami lepaskan,” tegas Khamenei di platform X, Sabtu lalu.





