Kumbanews.com – Ratusan orang dilaporkan meninggal dunia dalam tragedi kerusuhan yang pecah di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, saat laga Arema Vs Persebaya, Sabtu malam (1/10/2022).
kecewa. Sementara pelatih Arema dan manager tim mendekati tribbun timur dan menunjukan gestur minta maaf ke suporter.
“Di sisi lain ada satu orang suporter yang dari arah tribun selatan nekat masuk dan mendekati Sergio Silva dan Maringa. Terlihat seperti memberi kritik dan motivasi kepada mereka,” katanya.
Dari situ, masuk beberapa orang lagi ke lapangan meluapkan kekecewaan kepada pemain Arema. Terlihat John Alfarizie mencoba memberi pengertian kepada oknum-oknum suporter tesebut. Namun semakin banyak mereka yang berdatangan masuk, semakin ricuh stadion karena dari berbagai sisi stadion juga ikut masuk untuk meluapkan kekecewaannya ke pemain.
Hal itu diikuti dengan lempar-lempar berbagai macam benda ke arah lapangan, para suporter semakin tidak terkendali. Akhirnya para pemain digiring masuk ke dalam ruang ganti dengan pengawalan polisi.
“Seteah pemain masuk , suporter makin tidak terkendali dan makin banyak yang masuk ke lapangan,” katanya.
Pihak aparat melakukan berbagai upaya untuk memukul mundur para suporter. “Menurut saya perlakuannya sangat kejam dan sadis, dipentung dengan tongkatpanjang, satu suporter dikeroyok aparat, dihantam tameng dan banyak tindakan lainnya,” tulis akun tersebut.
Namun saat aparat memukul mundur, suporter lainnya dari arah selatan dan utara menyerang aparat. Makin banyak suporter yang masuk kondisi sudah tidak terkendali. Aparat alu menembakan beberapa kali gas air matake arah suporter yang ada di lapangan. Silih berganti suporter menyerang aparatdari sisi selatan dan utara.
“Yang akhirnya, selain hujan lemparan benda dari sisi tribun, di dalam lapangan juga terjadi aksi tembak-tembakan gas air mata ke arah suporter,” katanya.
Terhitung puluhan gas air mata sudah ditembakan ke arah suporter, di setiap sudut lapangan telah dikelilingi asap gas air mata. “Ada juga yang langsung ditembakan ke arah suporter, yaitu di tribun 10,” katanya.
Gas Air Mata Membuat Suporter Semakin Ricuh
Suporter yang panik karena gas air mata, semakin ricuh di atas tribun. Mereka berlarian mencari pintu keluar. Tapi sayang pintu keluar sudah penuh sesak karena penonton panik terkena gas air mata.
“Banyak ibu-ibu, wanita dan anak-anak kecil yang telrihat sesak gak berdaya, gak kuat ikut berjubel untuk keluar stadion. Terlihat mereka sesak karena gas air mata, seluruh pintu keluar penuh dan terjadi macet,” katanya.
Sementara di luar stadion banyak yang terkapar dan pingsan karena efek terjebak di dalam stadion yang penuh gas air mata. Sekitar puku 23.30 WIB juga masih banyak insiden pelemparan batu ke arah mobil aparat, dan pengeroyokan suporter terhadap aparat yang dianggap mengurung mereka di dalam stadion yang penuh gas air mata.
“Dan terjadi beberapa tembakan gas air mata kembali di luar stadion. Lebih tepatnya di sekitar tribun dua,” katanya.
Saat itu kondisi di luar stadion Kanjuruhan sudah sangat mencekam. Banyak suporter yang lemas bergelimpangan, teriakan dan tangisan wanita, suporter yang berlumuran darah, mobil hancur, kata-kata makian dan amarah terdengar.
“Saya dikenalkan Arema oleh orangtua saya saat tahun 2007 hingga saat ini. Hari ini 1 Oktober 2022 menjadi titik terendah saya menjadi seorang suporter. Saya masih belum percaya menyaksikan kondisi saudara-saudara saya dengan kondisi seperti ini. Saya sangat terpukul dengan adanya insiden ini. Dan semoga ini yang terakhir,” katanya.
Pertandingan Arema FC melawan Persebaya Surabaya berakhir dengan skor 3-2. Kekalahan itu merupakan yang pertama bagi Arema FC sejak 23 tahun terakhir.
Source: Liputan6





