Majalah Playboy, Permintaan Rahasia Sukarno ke Dubes AS

  • Whatsapp

Kumbanews.com – Majalah Playboy selalu memicu kontroversi di Indonesia. Yang terakhir, Jumat (29/5), ia kembali disinggung gara-gara Dirut TVRI yang baru, Iman Brotoseno, pernah menjadi kontributor di majalah Playboy Indonesia yang usianya hanya seumur jagung itu.

Iman rupanya pernah menulis artikel “Menyelam di Pulau Banda” untuk Playboy Indonesia edisi September 2006.’

Bacaan Lainnya

Playboy Indonesia sendiri tutup usia pada Maret 2007, tak sampai satu tahun sejak kemunculan—disusul perjalanannya—yang penuh huru-hara. Tiga belas tahun kemudian, Maret 2020, majalah Playboy Amerika mengakhiri edisi cetaknya di tengah pandemi corona dan beralih ke versi digital.

Omong-omong soal Playboy, tahukah anda bahwa lebih dari separuh abad lalu Presiden Sukarno menaruh perhatian pada majalah ini? Tak tanggung-tanggung, ia meminta Duta Besar Amerika Serikat Marshall Green menyelundupkan majalah Playboy untuknya. Kisah ini dimuat oleh Historia dengan judul “Sukarno dan Majalah Playboy”.

Peristiwa itu tepatnya terjadi pada Agustus 1965, sebulan setelah Marshall Green diangkat menjadi Duta Besar AS untuk Indonesia. Ketika itu Green dan Sukarno membahas hubungan bilateral Indonesia dan Amerika Serikat.

Tak ada yang istimewa dalam diskusi keduanya. Namun di ujung pertemuan, Sukarno berbisik pada Green, menyebut bahwa ia menyukai ulasan film dalam majalah Playboy, dan karenanya akan senang bila Green bisa memberinya majalah itu secara diam-diam.

Dubes Green tentu saja kaget. “Ia tersedak, tapi menampakkan kesan berusaha memenuhi permintaan itu,” tulis Historia dari memoar Green, Dari Sukarno ke Soeharto.

Green tak bilang-bilang soal pesanan Sukarno itu ke Kementerian Luar Negeri AS. Namun kemudian, Istri Green—Lispenard Crocker (Lisa)—kebetulan pergi ke AS dan mengiriminya Playboy lewat kantong diplomatik. Tapi Green hanya menyimpan majalah itu, tak memberikannya ke Sukarno seperti permintaan sang presiden.

Rupanya, ia takut dijebak Sukarno. “… ini mungkin jebakan. Pasti Sukarno punya cara yang lebih mudah untuk mendapatkan majalah ini,” pikir Green seperti tertulis dalam memoarnya.

Ia khawatir, jika ia benar-benar memberikan majalah itu ke Sukarno, presiden pertama RI itu bakal mencemoohnya di hadapan publik.

Majalah Playboy itu pun ditaruh Green begitu saja di kantornya, sampai enam bulan kemudian—awal 1966—ketika Kedutaan Besar AS di Jakarta dikepung massa anti-AS.

“Majalah ini justru paling tahan api di antara semua berkas saya yang dibakar,” tulis Green.

Sukarno pada akhirnya memiliki majalah Playboy. Ia bahkan memamerkannya pada acara kenegaraan.

“Saudara-saudara, ini loh saya bawa Playboy,” kata Sukarno saat berpidato di hadapan 1.500 pemuda marhaenis di Istana Negara pada 20 Desember 1966, seperti diceritakan JJ Rizal dalam artikel Sukarno, Majalah Playboy, dan CIA di Historia.

Buat apa gerangan Sukarno membawa-bawa Playboy ke panggung?

Ternyata ia hendak menunjukkan wajah Everette Howard Hunt Jr., agen intelijen kesohor AS yang ahli sabotase dan propaganda. Sukarno ketika itu menyebut Hunt sebagai miliarder yang membantu upaya pendongkelan terhadapnya.

Tiga bulan kemudian, Soeharto menggantikan Sukarno sebagai presiden. (*)

Pos terkait