Masih Ada 5.720 Warga Maros Hidup dalam Kemiskinan Ekstrem, Pemkab Genjot Program Penanganan

Sebanyak 5.720 warga Kabupaten Maros masih tercatat dalam kategori kemiskinan ekstrem. Pemerintah daerah terus menggencarkan berbagai program bantuan dan pemberdayaan untuk mempercepat pengentasan kemiskinan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (Ilustrasi)

Kumbanews.com – Di tengah berbagai upaya pembangunan yang terus berjalan, Kabupaten Maros masih menghadapi tantangan serius dalam pengentasan kemiskinan. Data terbaru menunjukkan sebanyak 5.720 warga masih berada dalam kategori kemiskinan ekstrem dan membutuhkan perhatian khusus dari pemerintah.

Jumlah tersebut setara dengan sekitar 1,50 persen dari total penduduk Kabupaten Maros. Kelompok ini merupakan masyarakat dengan tingkat pengeluaran yang jauh berada di bawah standar garis kemiskinan.

Bacaan Lainnya

Fungsional Perencana Ahli Pertama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Maros, James David Mangawe, menjelaskan bahwa kemiskinan ekstrem dihitung berdasarkan angka 0,8 kali garis kemiskinan yang berlaku.

Sebagai gambaran, garis kemiskinan pada tahun 2025 tercatat sebesar Rp560.172 per kapita per bulan. Dengan perhitungan tersebut, batas kemiskinan ekstrem berada di angka Rp448.138 per bulan.

“Penduduk yang pengeluarannya berada di bawah angka tersebut masuk dalam kategori miskin ekstrem,” ujar James, Senin (1/6/2026).

Menurutnya, masyarakat yang berada dalam kategori tersebut umumnya menghadapi kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, mulai dari pangan bergizi, tempat tinggal yang layak, akses air bersih, hingga pendidikan.

Bahkan, sebagian besar keluarga miskin ekstrem hanya berfokus memenuhi kebutuhan makan sehari-hari sehingga ruang untuk meningkatkan kualitas hidup menjadi sangat terbatas.

Untuk menekan angka kemiskinan ekstrem, Pemerintah Kabupaten Maros terus menjalankan berbagai program intervensi sosial. Upaya tersebut meliputi layanan kesehatan gratis, bantuan perbaikan rumah, distribusi makanan bergizi, penyediaan perlengkapan sekolah, hingga pemberian beasiswa bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Meski demikian, James menegaskan bahwa penanganan kemiskinan ekstrem tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Dibutuhkan program yang berkelanjutan dan tepat sasaran agar masyarakat tidak hanya keluar dari kategori miskin ekstrem, tetapi juga mampu lepas dari kemiskinan secara menyeluruh.

“Target pemerintah bukan sekadar mengurangi angka kemiskinan ekstrem, tetapi mendorong masyarakat agar dapat hidup lebih mandiri dan sejahtera,” katanya.

Karena itu, sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dinilai menjadi kunci penting untuk mempercepat penurunan angka kemiskinan serta meningkatkan kesejahteraan warga di Kabupaten Maros.

 

 

Pos terkait