Kumbanews.com – Menteri Agama Nasaruddin Umar menilai aksi boikot produk pro Israel bukan solusi untuk menyelesaikan konflik di Timur Tengah.
Menurut Nasaruddin, langkah tersebut justru dapat menimbulkan dampak lain bagi masyarakat, terutama pekerja di Indonesia.
Ia menyampaikan pandangan itu saat menghadiri acara silaturahmi bersama Kamar Dagang dan Industri Indonesia di Jakarta, Jumat (13/3/2026).
“Boikot bukan jalan keluar untuk menyelesaikan persoalan,” ujar Nasaruddin.
Boikot Produk Pro Israel Dinilai Berdampak ke Pekerja
Nasaruddin menjelaskan aksi boikot produk pro Israel dapat memengaruhi dunia usaha. Ketika penjualan menurun, perusahaan biasanya mengambil langkah efisiensi.
Situasi tersebut berpotensi memicu pemutusan hubungan kerja atau PHK.
Ia mencontohkan laporan yang menyebut sekitar 3.000 pekerja di Indonesia terdampak PHK dari salah satu jaringan restoran cepat saji akibat penurunan penjualan.
Menurut Nasaruddin, kondisi itu dapat membuat masyarakat mengalami kerugian ganda.
“Di sana ada konflik, sementara di sini pekerja kehilangan pekerjaan,” kata dia.
Menag Ajak Masyarakat Jaga Stabilitas Ekonomi
Nasaruddin menilai dunia usaha memiliki peran penting dalam perekonomian nasional. Banyak perusahaan membuka lapangan kerja dan memberikan kontribusi pajak.
Karena itu, ia mengajak masyarakat tetap menjaga stabilitas ekonomi nasional. Dukungan terhadap dunia usaha dinilai penting agar perekonomian tetap kuat di tengah dinamika global.





