Kumbanews.com – Dalam sejarah Islam, Musaylimah al-Kadhab muncul sebagai tokoh yang mengklaim kenabian pada masa Muhammad. Ia berasal dari Bani Hanifah di Yamamah dan secara terbuka menyatakan dirinya menerima wahyu.
Umat Islam kemudian menjulukinya al-Kadhab atau “si pendusta” karena klaim tersebut bertentangan dengan ajaran yang telah dibawa Rasulullah SAW.
Klaim Kenabian dan Surat kepada Rasulullah
Musaylimah datang ke Madinah bersama delegasi Bani Hanifah. Setelah kembali ke Yamamah, ia mendeklarasikan diri sebagai nabi.
Ia bahkan mengirim surat kepada Nabi Muhammad SAW dan meminta agar kenabian dibagi dua. Rasulullah SAW menolak permintaan itu dan menyebutnya sebagai pendusta.
Tindakan tersebut mempertegas posisinya sebagai penentang keras risalah Islam yang telah mapan.
Teks “Wahyu” yang Ditirunya
Musaylimah berusaha meniru gaya bahasa Al-Qur’an. Ia menyusun teks-teks pendek dan menyebutnya sebagai wahyu.
Dalam sejumlah riwayat sejarah, ia menyampaikan teks tentang katak dan gajah. Ia menggambarkan katak yang berdzikir di air serta gajah dengan belalai panjang.
Para ulama menilai teks itu tidak memiliki kekuatan bahasa dan kedalaman makna seperti Al-Qur’an. Karena itu, mayoritas umat Islam menolak klaim kenabiannya.
Perang Yamamah dan Akhir Perjalanannya
Setelah Rasulullah SAW wafat, Musaylimah mengumpulkan ribuan pengikut di Yamamah. Ia memimpin perlawanan terhadap pemerintahan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Pada tahun 632 M, pecah Battle of Yamama. Khalid bin Walid memimpin pasukan Muslim dan berhasil memukul mundur pasukan Musaylimah. Prajurit Muslim kemudian menewaskannya dalam pertempuran tersebut.
Perang Yamamah membawa dampak besar. Banyak penghafal Al-Qur’an gugur. Peristiwa itu mendorong Abu Bakar untuk mengumpulkan mushaf Al-Qur’an agar tidak hilang.
Pelajaran Sejarah
Kisah Musaylimah menunjukkan bahwa klaim kebenaran tanpa legitimasi wahyu tidak akan bertahan. Sejarah mencatatnya sebagai contoh ujian besar bagi umat Islam pada masa awal perkembangan agama.





