Kumbanews.com – Ketika Sheriff Ulysses (Bob Odenkirk) dipindahkan ke kota kecil bernama Normal, ia mengira tugas barunya akan berjalan tenang tanpa banyak tantangan. Namun, kesan damai yang terlihat di permukaan perlahan berubah menjadi rangkaian misteri dan intrik yang mengusik logika.
Ulysses datang untuk menggantikan Sheriff Gunderston (Pat Harris), yang ditemukan meninggal dunia dalam kondisi mengenaskan saat memancing. Dengan jumlah penduduk yang bahkan tak mencapai 2.000 jiwa, Normal tampak seperti kota yang jauh dari masalah besar.
Hari-hari awal Ulysses diisi rutinitas sederhana: berpatroli, menikmati kopi, hingga menyelesaikan keluhan warga yang terbilang sepele. Namun semakin lama berada di sana, semakin banyak kejanggalan yang ia temukan.
Salah satunya adalah larangan terhadap Alex (Jess McLeod), putri Gunderston, untuk menghadiri pemakaman ayahnya sendiri. Di saat yang sama, Wali Kota Kibner (Henry Winkler) mulai berusaha memengaruhi Ulysses dengan berbagai kebijakan yang terasa mencurigakan.
Situasi semakin memanas ketika pasangan muda, Lori (Reena Jolly) dan Keith (Brendan Fletcher), nekat melakukan perampokan bank. Aksi yang awalnya terlihat amatir itu ternyata menjadi pemicu terbongkarnya rahasia-rahasia besar yang selama ini tersembunyi di balik wajah tenang kota Normal.
Sutradara Ben Wheatley membuka film ini dengan adegan yang mengejutkan dan penuh ketegangan. Namun setelah itu, cerita bergerak lebih lambat dengan menampilkan keseharian warga Normal melalui pendekatan slice of life.
Bagi sebagian penonton, ritme yang melambat pada 30 menit pertama mungkin terasa menguji kesabaran. Akan tetapi, pengenalan karakter-karakter warga kota tersebut menjadi fondasi penting yang membuat konflik di babak berikutnya terasa lebih hidup.
Ketika adegan perampokan bank akhirnya berlangsung, tempo film berubah drastis. Ketegangan meningkat, negosiasi berlangsung panas, dan kekacauan demi kekacauan muncul tanpa henti. Di titik inilah film Normal menunjukkan kekuatannya sebagai perpaduan komedi gelap, thriller kriminal, dan sindiran terhadap praktik politik yang rakus kekuasaan.
Dengan penampilan khas Bob Odenkirk yang karismatik serta alur yang perlahan membangun misteri sebelum meledak di paruh akhir, Normal menawarkan pengalaman menonton yang tak sekadar menghibur, tetapi juga penuh kejutan.





