Karya: Zayyanah Dzatil Izzah
Caelus menyesuaikan langkahnya dengan ritme trotoar yang ramai. Sayap capungnya telah disembunyikan dengan sihir agar tidak menarik perhatian manusia. Rambutnya kini tampak cokelat biasa tanpa serbuk berkilau, sementara pakaian khas peri telah berganti menjadi kemeja gelap dan celana panjang berbahan katun.
Dalam wujud itu, Caelus nyaris tak terlihat seperti peri gigi.
Bahkan aura hangat yang biasanya mengelilinginya ikut tertutup, membaur dengan hiruk-pikuk kota.
Ia berjalan beberapa langkah di belakang targetnya.
Aerith.
Wanita itu melangkah santai menuju tempat kerjanya. Wajahnya tampak pucat, tetapi matanya tetap hidup—mata seseorang yang masih menyimpan mimpi di dalam dirinya. Ada ketenangan aneh dalam caranya berjalan, seolah dunia belum sepenuhnya berhasil mengikis harapannya.
Aerith mengenakan mantel panjang hingga selutut. Di balik mantel itu hanya ada kaos oblong sederhana, pakaian yang terasa jauh dari kesan formal pekerja kantoran.
Namun itu cocok untuknya.
Ia bukan pekerja korporasi biasa. Sebagai animator, kenyamanan jauh lebih penting dibanding pakaian rapi dan berkerah.
Di tangannya tergenggam sebuah tablet besar hampir seukuran laptop. Sementara di bahunya tergantung tas putih model sadel yang tampak cukup berat.
Perhatian Caelus tertarik pada gantungan-gantungan kecil di resleting tas itu.
Ada boneka kucing kecil, gantungan resin warna-warni, suvenir kerang laut, manik-manik kaca, hingga boneka Labubu yang bergoyang pelan setiap kali Aerith melangkah.
Benda-benda kecil itu berbunyi lirih di tengah keramaian kota.
Entah kenapa, Caelus merasa benda-benda itu sangat mencerminkan pemiliknya.
Sedikit berantakan, unik, tetapi hangat.
Caelus terus mengamati.
Aerith ternyata tinggal tidak jauh dari studionya, sebuah gedung sederhana dengan logo studio animasi tiga dimensi yang mulai memudar dimakan waktu. Dari tampilannya, studio itu sudah berdiri cukup lama.
Dan yang membuat Caelus heran, Aerith berjalan kaki menuju tempat kerja.
Di kota sebesar ini, kebiasaan itu terasa langka.
Caelus mengernyit pelan.
Biasanya hanya anak-anak yang percaya pada peri gigi. Imajinasi mereka masih hidup, belum sepenuhnya ditelan dunia nyata.
Namun Aerith berbeda.
Ia orang dewasa.
Seorang animator yang setiap hari hidup di tengah deadline, revisi, dan tuntutan industri kreatif.
Lalu kenapa ia masih percaya pada peri gigi?
“Sebenarnya siapa dia…?” gumam Caelus pelan.
Ia terus berjalan sambil membaur di antara manusia yang berlalu-lalang. Sesekali ia harus menghindari bahu pejalan kaki agar penyamarannya tidak terbongkar.
Caelus sebenarnya sudah menyiapkan hadiah.
Dan bukan hadiah biasa.
BMW.
Jika itu benar-benar keinginan Aerith, Caelus akan memberikannya tanpa ragu. Ia bahkan sudah membayangkan bagaimana mobil itu akan muncul secara “ajaib” tanpa membuat manusia curiga.
Namun sebelum itu, Caelus ingin mengetahui satu hal lebih dulu.
Alasan di balik kepercayaan Aerith.
Ia ingin tahu mengapa seseorang yang seharusnya telah melupakan dongeng justru masih percaya pada peri gigi.
Karena bagi Caelus, hadiah bukan sekadar imbalan.
Hadiah adalah bentuk pemahaman.
Tanpa memahami hati manusia, semua itu hanya terasa seperti transaksi kosong.
Caelus mempercepat langkahnya.
Hari ini, ia bukan hanya peri gigi.
Ia seorang penyelidik.
Dan Aerith adalah teka-teki yang harus ia pecahkan.
Begitu tiba di depan studio animasinya, Aerith berhenti sejenak. Ia menarik napas panjang, seolah sedang mengumpulkan tenaga sebelum memulai hari.
Lalu ia melangkah masuk.
Caelus berhenti di dekat sebuah pilar dan memperhatikan dari kejauhan. Ia menangkap detail-detail kecil yang mungkin tak diperhatikan orang lain—cara Aerith merapikan ujung mantelnya, cara ia menyesuaikan posisi tas di bahu, hingga kebiasaan kecilnya menunduk sebentar sebelum membuka pintu.
Caelus menyeberangi area parkir dan mendekati dinding kaca studio.
Dari luar, ia bisa melihat Aerith berbincang dengan beberapa rekan kerjanya. Mereka tampak serius sesaat, lalu tertawa kecil sebelum kembali ke meja masing-masing.
Suasana di dalam studio terasa hangat dan penuh energi kreatif.
Caelus perlahan mundur.
Klien yang ia terima kali ini ternyata tidak sesederhana yang ia bayangkan.
Ia membutuhkan rencana.
Bukan hanya rencana yang cerdas, tetapi juga cukup lembut untuk menyentuh sesuatu yang nyaris hilang—
kepercayaan kecil yang masih dijaga oleh seorang manusia dewasa.
Bersambung ke Bab 4





