Kumbanews.com – Perdana Menteri Latvia Evika Silina resmi mengumumkan pengunduran dirinya pada Kamis (14/5/2026). Keputusan ini diambil setelah Partai Progressives, mitra utama koalisi, menarik dukungan politik sehingga pemerintah kehilangan mayoritas di parlemen.
Langkah mundurnya Silina juga berkaitan dengan tekanan politik yang meningkat akibat penanganan insiden drone yang memasuki wilayah udara Latvia dalam beberapa pekan terakhir.
Sebelumnya, Menteri Pertahanan Latvia Andris Spruds lebih dulu mengundurkan diri setelah mendapat sorotan tajam terkait respons pemerintah terhadap sejumlah drone tak dikenal yang diduga berasal dari Ukraina. Salah satu drone bahkan dilaporkan jatuh di area fasilitas penyimpanan bahan bakar.
Pemerintah menyebut insiden tersebut sebagai ancaman serius terhadap keamanan nasional. Namun, kritik muncul karena dianggap lemahnya sistem pertahanan udara Latvia dalam mengantisipasi masuknya objek asing di wilayahnya.
Pada 7 Mei 2026, dua drone kembali dilaporkan melintasi wilayah Latvia. Spruds menyatakan kemungkinan besar drone tersebut merupakan bagian dari operasi Ukraina yang menargetkan Rusia, tetapi melenceng hingga memasuki wilayah negara Baltik tersebut.
Situasi ini memicu perdebatan politik yang lebih luas di parlemen. Sejumlah pihak menilai insiden berulang menunjukkan kelemahan koordinasi pertahanan nasional.
Presiden Latvia Edgars Rinkevics dijadwalkan memulai proses konsultasi dengan seluruh partai politik untuk membentuk pemerintahan baru pasca pengunduran diri perdana menteri.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha menyebut insiden tersebut kemungkinan dipicu gangguan perang elektronik Rusia yang mengacaukan arah drone Ukraina. Ia juga menawarkan bantuan teknis kepada negara-negara Baltik untuk memperkuat sistem pertahanan udara mereka.
Pengunduran diri Silina terjadi hanya beberapa bulan sebelum pemilihan umum Latvia yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026, menambah ketidakpastian politik di negara tersebut.





