Ribuan Siswa Keracunan Program Makan Bergizi Gratis, KSP Bongkar Data

Kepala Staf Kepresidenan Muhammad Qodari memberikan keterangan pers di Gedung Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta,Kamis (18/9/2025). (ANTARA/Fathur Rochman)

Kumbanews.com – Kepala Staf Presiden (KSP) M. Qodari mengungkapkan data mengejutkan terkait kasus keracunan massal yang menimpa peserta program Makan Bergizi Gratis (MBG). Berdasarkan laporan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), serta Badan Gizi Nasional (BGN), tercatat lebih dari 5.000 siswa menjadi korban.

Bacaan Lainnya

“Data Kemenkes per 16 September mencatat 60 kasus dengan 5.207 penderita. Sementara BPOM, per 10 September 2025, menemukan 55 kasus dengan 5.320 penderita,” kata Qodari di Kompleks Istana, Jakarta, Senin (22/9/2025).

Ia menjelaskan, puncak insiden terjadi pada Agustus 2025 dengan sebaran terbanyak di Jawa Barat. Menurutnya, ada empat faktor utama penyebab keracunan, yakni rendahnya higienitas makanan, suhu penyajian yang tidak sesuai, kesalahan pengolahan pangan, kontaminasi silang dari petugas, serta sebagian kasus dipicu alergi penerima manfaat.

Qodari menekankan perlunya setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memiliki sertifikasi Laik Higiene dan Sanitasi (SLHS) dari Kemenkes. “SPPG wajib punya SLHS sebagai mitigasi dan pencegahan keracunan pada program MBG,” ujarnya dilansir dari Kompas.com.

Sementara itu, Ketua DPR RI Puan Maharani meminta pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh atas program MBG agar tidak merugikan anak-anak. Ia menilai, pelaksanaan program skala nasional memang tidak mudah, namun perbaikan harus segera dilakukan.

“Evaluasi harus terus dijalankan agar pelaksanaan di lapangan bisa lebih baik. Jangan sampai anak-anak yang justru dirugikan,” kata Puan di Gedung DPR, Senin (22/9/2025).

Puan mendesak agar pemerintah segera melakukan evaluasi total jika kasus keracunan kembali berulang di berbagai daerah. “Program ini memang besar dan tidak mudah, maka semua pihak terkait harus melakukan evaluasi menyeluruh,” tegasnya. (**)

Pos terkait