Kumbanews.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus berada dalam tekanan dan nyaris menyentuh level Rp17.000 per dolar AS dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini mendapat sorotan dari Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo.
Perry menjelaskan, pelemahan rupiah dipengaruhi oleh tingginya ketidakpastian pasar keuangan global. Di sisi lain, permintaan valuta asing (valas) dari korporasi domestik juga meningkat seiring berlanjutnya aktivitas ekonomi nasional.
“Perkembangan nilai tukar terutama dipengaruhi oleh tingginya ketidakpastian pasar keuangan global di tengah meningkatnya permintaan valas korporasi domestik sejalan dengan kenaikan kegiatan ekonomi,” ujar Perry dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG), Kamis (19/2/2026).
Berdasarkan data BI, pada 18 Februari 2026 rupiah tercatat berada di level Rp16.880 per dolar AS. Posisi tersebut melemah sekitar 0,56 persen dibandingkan akhir Januari 2026.
Meski demikian, Perry menilai pergerakan rupiah saat ini belum mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia yang tetap solid. Bahkan, menurut dia, nilai tukar rupiah masih berada di bawah nilai wajarnya (undervalued).
BI memandang stabilitas inflasi yang terjaga dalam kisaran sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen menjadi salah satu faktor fundamental yang mendukung penguatan rupiah ke depan.
Bank sentral memastikan akan terus mengoptimalkan langkah stabilisasi di pasar valas, termasuk melalui intervensi yang terukur dan berkelanjutan. Dengan dukungan fundamental ekonomi yang kuat, BI meyakini rupiah berpeluang kembali stabil dan cenderung menguat dalam jangka menengah.





