Kumbanews.com – Di balik seragam kuning yang dikenakannya setiap hari menjaga keamanan BRI Kantor Cabang Tanjung Priok, Jakarta Utara, tersembunyi prestasi luar biasa. Khoirul Anam (28), seorang satpam, menyandang gelar magister, dua gelar sarjana, telah menerbitkan delapan buku, dan menghasilkan 13 karya ilmiah yang dipublikasikan di jurnal nasional maupun internasional.
Anam menyelesaikan pendidikan S2 Manajemen di Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma. Sebelumnya, ia menempuh dua program sarjana: S1 Manajemen di Universitas Pamulang melalui kelas karyawan sejak 2019, dan S1 Pendidikan Agama Islam di STIT Bustanul Ulum Lampung Tengah.
Menjalani pendidikan sambil bekerja bukan hal yang mudah baginya. “Kesulitannya paling pengelolaan waktu. Terkadang kita korbankan waktu tidur untuk menyelesaikan penelitian,” ujarnya saat ditemui pada Selasa (3/2/2026).
Di sela tugasnya, Anam tetap produktif menulis. Selain delapan buku ber-ISBN yang terdaftar di Perpustakaan Nasional, ia tengah menggarap tiga buku lagi melalui kolaborasi dengan Kementerian Kebudayaan lewat Dana Indonesiana. “Untuk karya buku, yang sudah publikasi sekitar delapan buku dan tiga buku lagi sedang saya garap sekarang,” katanya.
Hasil kerja kerasnya di bidang penulisan ilmiah membuatnya meraih rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai satpam dengan karya ilmiah terbanyak pada Jumat (30/1/2026). Selain 13 karya yang sudah terpublikasi, dua jurnal lainnya telah diserahkan sebagai bagian dari tugas akhir skripsi dan tesis.
Namun, perjalanan akademiknya tidak lepas dari kendala. Biaya publikasi jurnal dan buku yang tidak sedikit menjadi tantangan utama. “Kalau saya sih jujur dari segi pendanaan untuk publikasinya sih. Karena untuk publikasi jurnal maupun buku itu memerlukan biaya,” ungkapnya.
Karena keterbatasan tersebut, ia harus menyesuaikan pilihan media publikasi dengan penghasilannya sebagai satpam. Meski demikian, ia tetap berharap karya-karyanya dapat terbit di jurnal bereputasi tinggi. “Sangat pengin karya tulis saya itu terakreditasi mungkin Sinta 2, Sinta 3, atau Scopus 3, Scopus 4. Tetapi karena biaya, belum bisa gitu,” ucapnya.
Perjalanan hidup Anam penuh liku. Ia merantau dari Kabupaten Tanggamus, Lampung, ke Jakarta pada 2018 hanya dengan modal Rp 1 juta. Di tahun yang sama, ia bahkan sempat mengalami sakit berat hingga koma, membuat keluarganya pesimis terhadap peluang hidupnya.
Pengalaman itu menjadi titik balik. “Dari sakit itu ada motivasi. Saya harus hidup di umur kedua ini harus menjadi yang lebih baik,” katanya.
Kini, Anam bertekad untuk terus menempuh pendidikan dan menulis. Ia bercita-cita menjadi pengajar di masa depan. “Motivasi saya sebenarnya ingin mencerdaskan bangsa. Cita-cita saya menjadi pengajar, guru atau dosen. Untuk saat ini saya bertahan sebagai satpam sambil berusaha mencapai titik tersebut,” ujarnya.
Ia pun memberikan pesan agar siapa pun tidak berhenti belajar, apa pun profesinya.





