Truffle, Saffron, hingga Kaviar: Deretan Bahan Makanan Termahal di Dunia

Jamur truffle putih langka seberat 850 gram ditampilkan sebelum lelang World White Truffle ke-19 di Alba, Italia, 11 November 2018. Kota Alba sudah menyelenggarakan lelang jamur truffle putih langka selama 88 tahun. (Marco BERTORELLO/AFP)

Kumbanews.com – Dunia kuliner tak hanya soal rasa, tapi juga nilai ekonomi. Beberapa bahan makanan premium memiliki harga yang bisa menyaingi emas, bahkan setara cicilan rumah. Kelangkaan, proses produksi yang rumit, hingga nilai budaya menjadikan bahan-bahan ini komoditas eksklusif bernilai tinggi di pasar global.

Salah satu yang paling terkenal adalah truffle putih Alba. Jamur langka ini hanya tumbuh liar di wilayah tertentu di Italia, khususnya Piedmont, dan tidak dapat dibudidayakan. Harga truffle putih berkualitas tinggi bisa mencapai USD 3.500–4.000 per pon. Masa panennya singkat, hanya antara September hingga Desember, dan pencarian dilakukan dengan anjing terlatih di hutan, tanpa jaminan hasil.

Selain jamur, saffron atau “emas merah” termasuk rempah termahal di dunia. Untuk menghasilkan satu kilogram saffron kering dibutuhkan sekitar 150.000 bunga crocus, setiap bunga memiliki tiga helai putik yang harus dipetik manual. Iran menjadi produsen utama, diikuti Spanyol dan India, dengan harga mencapai USD 6–20 per gram tergantung kualitas.

Di puncak hierarki kemewahan ada kaviar Almas, yang berasal dari telur ikan sturgeon beluga albino di Laut Kaspia. Harganya bisa menembus USD 25.000 per kilogram karena kelangkaan spesies, usia ikan yang panjang, dan regulasi ketat.

Produk protein hewani juga masuk daftar premium. Daging sapi Kobe dari sapi Tajima di Jepang memiliki harga antara USD 200–500 per pon. Hanya sekitar 3.000 ekor sapi per tahun yang lolos sertifikasi Kobe, dengan standar ketat untuk marbling dan pembiakan.

Di Asia, Jepang menghadirkan jamur matsutake seharga USD 1.500–2.000 per pon. Jamur ini tumbuh liar di hutan pinus dan bergantung pada ekosistem alami, membuatnya semakin langka.

Sementara itu, sarang burung walet dari Asia Tenggara memiliki harga antara USD 2.000–4.000 per kilogram untuk yang putih, dan hingga USD 10.000 per kilogram untuk yang merah. Air liur burung yang mengeras dipanen dari gua atau tebing curam dengan risiko tinggi dan proses pembersihan yang rumit, menjadikannya komoditas bernilai tinggi.

Harga fantastis bahan-bahan ini mencerminkan lebih dari sekadar rasa. Kelangkaan, waktu, tenaga kerja, dan nilai budaya menciptakan ekosistem ekonomi tersendiri di industri pangan premium. Bagi sebagian orang, bahan-bahan ini bukan sekadar konsumsi, tapi juga investasi pengalaman dan simbol prestise kuliner global. (***)

Pos terkait