Kumbanewe.com – Prosedur cuci darah atau hemodialisis ternyata tidak hanya berdampak pada kesehatan pasien, tetapi juga terhadap lingkungan. Dokter menyebut satu sesi terapi tersebut dapat menghasilkan jejak karbon yang cukup besar.
Dokter spesialis penyakit dalam Pringgodigdo Nugroho mengungkapkan bahwa satu kali prosedur hemodialisis menghasilkan emisi karbon yang setara dengan kendaraan yang menempuh perjalanan sekitar 240 kilometer.
“Satu sesi hemodialisis diperkirakan menghasilkan jejak karbon setara emisi kendaraan yang menempuh perjalanan sekitar 240 kilometer,” ujar Pringgodigdo.
Proses Hemodialisis Butuh Energi Besar
Menurutnya, prosedur hemodialisis membutuhkan energi listrik, air dalam jumlah besar, serta berbagai peralatan medis sekali pakai. Seluruh komponen tersebut ikut berkontribusi terhadap peningkatan emisi karbon.
Meski demikian, ia menegaskan pasien yang membutuhkan terapi cuci darah tetap harus menjalani pengobatan tersebut sesuai anjuran dokter.
“Terapi ini sangat penting bagi pasien gagal ginjal, sehingga tetap harus dilakukan sesuai kebutuhan medis,” katanya.
Menjaga Kesehatan Ginjal Sejak Dini
Pringgodigdo mengingatkan masyarakat untuk menjaga kesehatan ginjal sejak dini. Upaya pencegahan dinilai jauh lebih baik dibanding harus menjalani terapi jangka panjang seperti hemodialisis.
Ia menyarankan masyarakat menerapkan pola hidup sehat, seperti mengontrol tekanan darah, menjaga kadar gula darah, mengurangi konsumsi garam, serta memperbanyak minum air putih.
Dengan menjaga kesehatan ginjal, risiko penyakit ginjal kronis dapat ditekan sehingga kebutuhan terapi cuci darah juga dapat berkurang.





