AS Lobi Kelompok Kurdi, Iran Terancam Konflik Internal di Tengah Serangan Israel

Pemuda Kurdi Suriah ketika menggelar parade militer di Afrin (28/1/2018). (AFP/DELIL SOULEIMAN)

Kumbanews.com – Amerika Serikat dilaporkan membuka komunikasi intensif dengan kelompok oposisi Kurdi di tengah perang AS-Israel melawan Iran yang memasuki hari kelima.

Sejumlah pejabat Kurdi dan Amerika Serikat menyebut pemerintahan Presiden Donald Trump tengah membahas kemungkinan pemberian dukungan persenjataan kepada kelompok Kurdi di Iran. Namun hingga kini, belum ada konfirmasi resmi mengenai kesepakatan final.

Bacaan Lainnya

Laporan CNN menyebut Washington ingin memanfaatkan kekuatan Kurdi untuk menekan militer Iran dari dalam.

CIA Disebut Negosiasi dengan Oposisi

Menurut sumber yang dikutip CNN, badan intelijen AS, Central Intelligence Agency, melakukan negosiasi dengan sejumlah kelompok Kurdi. Pemerintah AS berharap langkah ini dapat melemahkan struktur militer Teheran sekaligus mendorong gelombang protes domestik.

Selain itu, Washington juga mempertimbangkan pembentukan zona kendali di wilayah Iran utara yang dapat berfungsi sebagai penyangga strategis bagi Israel.

Trump bahkan disebut berbicara langsung dengan Mustafa Hijri, pemimpin Kurdistan Democratic Party of Iran (KDPI), pada Selasa (3/3/2026).

Kontak dengan Tokoh Kurdi Irak

Tak hanya di Iran, Trump juga menjalin komunikasi dengan dua tokoh penting Kurdi di Irak, yakni Masoud Barzani dan Bafel Talabani.

Bafel Talabani mengonfirmasi percakapan telepon tersebut. Dalam pernyataan resminya, Persatuan Patriotik Kurdistan (PUK) menyebut pembicaraan membahas arah strategis hubungan AS-Irak, tanpa mengungkap detail operasional.

Dalam beberapa hari ke depan, kelompok Kurdi diperkirakan mulai terlibat dalam operasi darat di Iran barat.

Pola Lama Washington di Timur Tengah

Langkah ini dinilai bukan strategi baru bagi Washington. AS sebelumnya pernah memberi dukungan taktis kepada kelompok Kurdi Irak melalui zona larangan terbang pada 1991.

AS juga mendukung milisi Kurdi Suriah dalam perang melawan ISIS, serta membantu oposisi bersenjata saat konflik Libya pada 2011 yang menggulingkan Muammar Gaddafi.

Kini, strategi serupa kembali mencuat di tengah situasi Iran yang memanas pasca tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Jika dukungan bersenjata benar-benar terealisasi, Iran berpotensi menghadapi tekanan ganda: serangan eksternal dan konflik internal yang dapat mengarah pada perang saudara.

 

 

Pos terkait