Bulusaraung: Gunung Mistis Sulawesi dan Tragedi Pesawat ATR 42

Kabut menyelimuti puncak Gunung Bulusaraung, saksi sejarah, legenda, alam karst Sulawesi, dan tragedi pesawat ATR 42 yang menimpa lerengnya. (Istimewa)

Kumbanews.com – Gunung Bulusaraung telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari lanskap alam dan ingatan sejarah Sulawesi Selatan. Menjulang di kawasan karst Maros– Pangkep, gunung ini bukan sekadar bentang alam, melainkan ruang yang menyimpan lapisan waktu, jejak geologi purba, peninggalan manusia prasejarah, kepercayaan turun-temurun, hingga peristiwa nyata yang tercatat dalam sejarah modern.

Kabut yang kerap turun tanpa aba-aba, tebing karst yang curam, serta hutan lebat yang mengelilinginya membentuk karakter Bulusaraung sebagai gunung yang selalu dipandang dengan hormat. Bagi masyarakat sekitar, Bulusaraung bukan hanya tujuan pendakian atau objek wisata, melainkan bagian dari warisan alam dan budaya yang dijaga dari generasi ke generasi.

Bacaan Lainnya

Jejak Sejarah dan Alam Karst

Bulusaraung berada di jantung Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, salah satu kawasan karst terluas di dunia. Gugusan tebing kapur, lembah, dan gua-gua purba di kawasan ini menjadi bukti proses geologis yang berlangsung selama jutaan tahun.

Di sekitar Bulusaraung, gua-gua menyimpan jejak kehidupan manusia purba. Lukisan dinding, sisa hunian, dan artefak sederhana menunjukkan bahwa kawasan ini telah lama menjadi ruang hidup manusia sejak masa prasejarah. Dalam konteks sejarah Sulawesi, Bulusaraung bukanlah gunung yang kosong, melainkan bagian dari perjalanan panjang peradaban.

Mitos dan Kepercayaan yang Hidup

Selain nilai geologis dan arkeologis, Bulusaraung juga lekat dengan kisah-kisah mistis. Masyarakat setempat meyakini gunung ini memiliki aturan tak tertulis. Pendaki dan pengunjung diingatkan untuk menjaga sikap, tutur kata, dan niat ketika memasuki wilayahnya.

Cerita tentang pendaki yang tersesat, cuaca yang berubah mendadak, hingga kabut tebal yang turun tanpa tanda sering dikaitkan dengan kepercayaan lokal. Mitos-mitos ini tidak selalu dimaknai secara harfiah, melainkan sebagai bentuk kearifan agar manusia bersikap rendah hati di hadapan alam.

Dalam pandangan masyarakat, Bulusaraung bukan untuk ditaklukkan, melainkan untuk dihormati.

Tragedi Pesawat ATR 42: Catatan Sejarah Modern

Pada 17 Januari 2026, Bulusaraung menorehkan satu catatan penting dalam sejarah modernnya. Sebuah pesawat ATR 42-500 yang dioperasikan Indonesia Air Transport mengalami kecelakaan saat menjalankan penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar dalam misi patroli laut. Pesawat tersebut membawa 11 orang, terdiri dari 8 kru dan 3 penumpang.

Dalam catatan pencarian, kontak terakhir pesawat menunjukkan posisinya berada di kawasan pegunungan Sulawesi Selatan. Beberapa hari kemudian, upaya pencarian menemukan puing-puing dan serpihan pesawat di lereng Gunung Bulusaraung, mengonfirmasi bahwa kecelakaan terjadi di wilayah karst gunung tersebut.

Proses pencarian berlangsung dalam kondisi alam yang berat. Medan karst yang curam, hutan lebat, serta kabut tebal menjadi tantangan utama bagi tim penyelamat. Dalam tahap awal evakuasi, satu jenazah korban berhasil ditemukan, sementara sepuluh orang lainnya masih tercatat dalam proses pencarian. Hingga kini, penyebab kecelakaan belum diumumkan secara resmi dan masih dalam penyelidikan otoritas berwenang.

Peristiwa ini kemudian tercatat sebagai salah satu bab paling kelam dalam sejarah Bulusaraung, menandai perjumpaan antara teknologi modern dan alam purba yang tetap memegang kendali.

Bulusaraung dalam Ingatan Waktu

Tragedi tersebut tidak menghapus identitas Bulusaraung sebagai gunung sejarah dan budaya. Sebaliknya, ia menambah satu lapisan ingatan baru—bahwa Bulusaraung bukan hanya menyimpan kisah masa lalu, tetapi juga peristiwa nyata di masa kini.

Bagi masyarakat sekitar, gunung ini tetap dipandang sebagai ruang yang harus dijaga. Bagi sejarah, Bulusaraung kini mencatat satu lagi peristiwa yang akan dikenang sebagai bagian dari perjalanan panjangnya.

Catatan Redaksi Kumbanews.com

Bulusaraung tidak meminta untuk ditaklukkan. Ia hanya meminta untuk dihormati.

Di balik kabutnya, gunung ini menyimpan sejarah panjang, kepercayaan turun-temurun, dan peristiwa nyata yang mengajarkan satu pelajaran sunyi: manusia boleh datang dan pergi, tetapi alam tetap berdaulat.

Pos terkait