Basarnas Tegaskan Data Smartwatch Co Pilot ATR 42-500 Bukan Rekaman Saat Insiden

Kepala Basarnas (Kabasarnas), Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin 1 Desember 2025. (Foto: istimewa)

Kumbanewa.com – Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) menegaskan bahwa rekaman pergerakan co pilot pesawat ATR 42-500, Farhan Gunawan, yang terekam melalui smartwatch bukan berasal dari waktu terjadinya kecelakaan pesawat di Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan.

Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menjelaskan, data yang sempat beredar luas di publik tersebut merupakan rekaman lama saat Farhan masih berada di Yogyakarta, beberapa bulan sebelum insiden jatuhnya pesawat pada Sabtu, 17 Januari 2026.

Bacaan Lainnya

“Setelah dilakukan pemeriksaan bersama Polda Sulawesi Selatan, data aktivitas itu ternyata rekaman lama. Bukan saat kejadian di lokasi jatuhnya pesawat,” kata Syafii kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 21 Januari 2026.

Syafii mengungkapkan, ponsel milik Farhan yang ditemukan di lokasi kejadian sempat diserahkan kepada pihak keluarga korban. Selanjutnya, perangkat tersebut diserahkan ke Polda Sulsel untuk dilakukan pendalaman forensik digital, termasuk penelusuran data yang terhubung dengan smartwatch korban.

“Hasil pemeriksaan menunjukkan data pergerakan itu tercatat beberapa bulan lalu, ketika korban masih berada di Jogja. Data tersebut sudah kami pastikan dan sudah di-clear,” jelasnya.

Basarnas juga telah menyampaikan klarifikasi secara langsung kepada keluarga korban terkait informasi yang sempat memicu spekulasi publik. Menurut Syafii, pihak keluarga telah memahami penjelasan yang disampaikan otoritas terkait.

“Kami memahami perasaan keluarga korban. Karena itu klarifikasi ini perlu disampaikan agar tidak terjadi kesalahpahaman di tengah masyarakat,” pungkasnya.

 

 

 

Pos terkait