Kumbanews.com – Di tengah persoalan limbah yang masih menjadi pekerjaan rumah kota, kegelisahan itu justru tumbuh dari lorong-lorong sempit Bontoala, Kecamatan Bontoala, Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Oli bekas menghitamkan tanah, plastik menumpuk tanpa arah, dan selokan perlahan kehilangan fungsinya.
Di sana, Darwin memilih tidak diam.
Darwin bukan ilmuwan. Ia bukan pejabat. Ia hanya warga biasa yang setiap hari menyaksikan lingkungannya pelan-pelan rusak oleh limbah yang dianggap sepele dan dibiarkan tanpa pengelolaan jelas.
Baginya, oli bekas dan plastik bukan sekadar sampah. Keduanya adalah ancaman nyata bagi kawasan padat seperti Bontoala, terlebih ketika sistem pengelolaan limbah belum benar-benar menyentuh warga di level paling bawah.
Kegelisahan itu tak berhenti sebagai keluhan. Darwin mencoba bergerak, meski dengan kemampuan terbatas dan risiko yang ia pahami betul. Ia memanfaatkan oli bekas sebagai bahan bakar dan mengolah plastik agar tidak seluruhnya berakhir mencemari tanah dan saluran air.
Langkah itu ia lakukan bukan karena merasa menemukan solusi besar, melainkan karena ia tak sanggup hanya menjadi penonton. Dalam pandangannya, membiarkan limbah terus menumpuk tanpa upaya apa pun justru terasa lebih berbahaya.
Darwin sadar, apa yang ia lakukan masih jauh dari aman dan ideal. Asap, panas, serta risiko kesehatan selalu menghantui proses yang ia jalani. Namun kegelisahan terhadap dampak limbah bagi lingkungan tempat ia tinggal membuatnya tetap melangkah, meski tanpa pendampingan dan perlindungan memadai.
Di kawasan padat kota, limbah sering menjadi masalah bersama, tetapi tak pernah benar-benar menjadi tanggung jawab siapa pun. Dari situ, Darwin melihat kekosongan peran yang seharusnya diisi oleh sistem dan kebijakan yang lebih hadir di tingkat warga.
Darwin adalah potret kegelisahan kota kecil di tubuh kota besar. Ia berdiri di antara niat baik dan keterbatasan sistem.
Ia bukan jawaban akhir atas krisis limbah. Namun upayanya menjadi pengingat keras ketika negara terlambat hadir, keresahan warga akan mencari jalannya sendiri kadang dengan cara yang berani, kadang dengan cara yang berisiko.
Editor: M. Yusuf





