Karena Kelelahan, Bocah Korban Penyiksaan Ibu Angkat di Makassar Alami Demam Tinggi

  • Whatsapp

Kumbanews.com – Bocah perempuan berinisial Us alias F (5) tiba-tiba demam. Suhunya mencapai 38 derajat celcius dari ukuran normal 36 hingga 37 derajat celcius.

Tiga orang dokter dari Home Care Puskesmas Toddopuli, Makassar, didampingi empat orang pendamping dari Universitas Muhammadiyah mengunjungi Us di kantor tim reaksi cepat Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) di Jalan Anggrek Raya Nomor 11, Paropo, Panakkukang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Bacaan Lainnya

“Anak ini demam capai 38 derajat celcius. Kita beri obat penurun panas Paracetamol dan obat antibiotik berupa amoksilin untuk anti infeksi karena ada tanda-tanda kekerasan yakni bekas luka di punggungnya,” kata Dokter Adriani Latif, salah seorang dokter yang memeriksa.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A), Andi Tenri Palallo mengatakan, anak Us ini tiba-tiba demam kemungkinan karena kelelahan dan juga karena volume perut berlebihan.

“Anak Us mungkin kelelahan karena bolak balik dari kantor lalu ke Polrestabes Makassar, ke RS Bhayangkara untuk visum. Dan sejak Us bersama kami, dia kuat makan membuat volume perutnya berlebih sehingga memicu demam,” kata Tenri Palallo dilansir merdeka.com.

Adapun anak Ow alias Aw, (5), saat ditanya oleh tim dokter mengenai kesehatan, dia mengaku tidak keluhan. Dia pun kembali asyik bermain game. Sementara anak Dv alias Dr, (2,5), tampak ceria. Dia terus bermain layaknya anak kecil.

Diketahui, tiga bocah diduga disekap ibu angkatnya, Acci (40) alias Memei alias Gensel. Tiga bocah ini adalah laki-laki Ow (11), perempuan Us (5) dan laki-laki Dv, (2,5).

Us dan Dv kini dalam penanganan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Makassar. Keduanya dalam perlindungan tim reaksi cepat Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Makassar.

Sementara Ow menghilang sejak berhasil meloloskan diri dari ruko itu bersama dua adiknya dengan cara merusak gembok pintu harmonika ruko menggunakan besi yang biasanya digunakan Acci untuk memukuli mereka.

Penyekapan ini terungkap setelah salah satu warga bernama Pattahari (41), melihat ketiga bocah melambaikan tangan dari jendela lantai 2 ruko Jalan Mirah Seruni, Kecamatan Panakkukang, Makassar. Sembari memegang perut dan menunjuk mulut menggambarkan orang sedang lapar.

“Pernah kita lihat anak-anak itu lambaikan tangannya dari jendela lantai 2. Itu tripleks penutup jendela dibuka, lalu lambaikan tangan minta perhatian orang. Terus pegang perutnya dan mulut. Mungkin lapar kasihan tapi kita tidak berani juga mendekat karena itu Acci suka marah, selalu mengancam pakai senapan,” tutur Pattahari (41) warga sekitar ruko tempat tinggal bocah tersebut, Senin 17 September 2018.

Pattahari inilah yang melihat bocah Dv menangis di depan ruko karena ditinggal dua kakaknya. Pattahari lalu menggendong Dv bawa ke pos sekuriti dan meminta sekuriti mengejar bocah Us yang sudah menjauh karena mengejar Ow kakaknya yang menghilang.

Setelah keduanya di pos sekuriti, kejadian ini dilaporkan ke tim reaksi cepat Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Makassar.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Makassar, Andi Tenri Palallo mengatakan, dari penuturan Us, kakaknya Ow itu pergi karena mereka sepakat bahwa kalau mereka berhasil keluar dari rumah, tidak boleh pergi bertiga karena kalau tertangkap lagi maka akan tertangkap bertiga. Harus ada yang selamat.

Sebelum keluar rumah, bocah Us masih sempat ambil satu pasang baju buat Dv adiknya dan dia sendiri. Juga ambil uang celengan Ow kakaknya sebesar Rp 32 ribu yang katanya akan diberikan ke Ow kalau suatu hari kembali bertemu.

Dengan pendekatan khusus, kata Tenri, bocah perempuan Us ini cerita kalau selama ini mereka dipaksa membersihkan kotoran hewan piaraan Acci seperti anjing dan kucing. Juga tidak luput dari tindak kekerasan.

“Di sekujur tubuh bocah Us dan Dv yang usianya diperkirakan 2,5 tahun itu masih ada sisa-sisa warna membiru. Bahkan terlihat ada kulit masih memerah seperti bekas sundut rokok,” tutur Tenri.

Pos terkait