Kumbanews.com – Dinamika kuliner di Kota Makassar terus berkembang. Jika sebelumnya restoran modern mendominasi, kini justru warung tenda sederhana mulai mencuri perhatian, terutama pada malam hari. Fenomena ini terlihat di sejumlah ruas jalan yang dipadati pengunjung sejak usai waktu Magrib hingga larut malam.
Warung tenda menawarkan berbagai menu khas yang akrab di lidah masyarakat, mulai dari nasi goreng kampung, mie titi, hingga coto Makassar yang disajikan dengan cita rasa autentik. Harga yang terjangkau serta suasana santai menjadi daya tarik utama bagi kalangan anak muda hingga keluarga.
Salah satu pengunjung, Rahmat (28), mengaku lebih memilih kuliner malam di warung tenda dibanding restoran besar. Menurutnya, selain lebih hemat, rasa makanan di warung tenda justru lebih “hidup”.
“Kadang justru di tempat sederhana begini rasanya lebih enak. Bumbu terasa kuat, dan suasananya juga lebih santai,” ujarnya.
Selain itu, pelaku usaha kecil juga mulai memanfaatkan tren ini sebagai peluang ekonomi. Banyak pedagang yang sebelumnya berjualan siang hari kini beralih membuka lapak pada malam hari karena dinilai lebih ramai.
Sejumlah titik seperti kawasan pinggir jalan utama hingga area dekat permukiman padat kini berubah menjadi sentra kuliner dadakan. Lampu-lampu sederhana dan aroma masakan yang menggoda menjadi magnet tersendiri bagi para pengunjung.
Pengamat ekonomi lokal menilai tren ini menunjukkan pergeseran gaya hidup masyarakat urban di Makassar. Aktivitas malam hari semakin meningkat, termasuk dalam hal konsumsi makanan.
“Ini bukan sekadar soal makan, tapi juga gaya hidup. Orang mencari pengalaman, bukan hanya tempat mewah,” kata seorang pengamat.
Meski demikian, pemerintah diharapkan tetap melakukan pengawasan, terutama terkait kebersihan dan penataan lokasi agar tidak mengganggu arus lalu lintas.
Dengan tren yang terus meningkat, kuliner malam berbasis warung tenda diprediksi akan menjadi bagian penting dari identitas kuliner Makassar ke depan.





