Laporan 2026 Ungkap Media Sosial Turunkan Kesejahteraan Remaja, Perempuan Paling Terdampak

Laporan 2026 mengungkap penggunaan media sosial berlebih menurunkan kesejahteraan remaja. (Ilustrasi)

Kumbanews.com – Penggunaan media sosial secara berlebihan terbukti berdampak pada penurunan kesejahteraan anak muda, terutama remaja perempuan. Temuan ini terungkap dalam World Happiness Report 2026 yang dirilis University of Oxford.

Laporan tersebut mencatat penurunan signifikan tingkat kepuasan hidup pada anak muda di bawah usia 25 tahun, khususnya di negara-negara seperti Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Selandia Baru dalam satu dekade terakhir.

Bacaan Lainnya

Penurunan ini dikaitkan dengan tingginya durasi penggunaan media sosial. Remaja perempuan menjadi kelompok yang paling terdampak, terutama mereka yang menghabiskan waktu berjam-jam di platform digital.

Data menunjukkan, remaja perempuan berusia 15 tahun yang menggunakan media sosial lebih dari lima jam per hari cenderung memiliki tingkat kepuasan hidup lebih rendah. Sebaliknya, mereka yang menggunakan kurang dari satu jam per hari justru mencatat tingkat kesejahteraan paling tinggi.

Secara rata-rata, remaja saat ini menghabiskan sekitar 2,5 jam per hari di media sosial.

“Jelas kita perlu mengembalikan unsur ‘sosial’ dalam media sosial,” Jan-Emmanuel De Neve, profesor ekonomi Oxford yang memimpin riset tersebut.

Laporan itu juga menyoroti perbedaan dampak berdasarkan jenis platform. Media sosial dengan sistem algoritma, konten visual dominan, dan budaya influencer dinilai lebih berisiko karena mendorong perbandingan sosial secara intens. Sementara itu, platform yang menekankan komunikasi langsung cenderung memberikan dampak lebih positif.

Meski demikian, dampak media sosial tidak seragam di seluruh dunia. Di kawasan seperti Timur Tengah dan Amerika Selatan, penggunaan media sosial yang tinggi tidak selalu berkorelasi dengan penurunan kesejahteraan.

Finlandia Tetap Jadi Negara Paling Bahagia

Di sisi lain, Finlandia kembali menempati peringkat pertama sebagai negara paling bahagia di dunia untuk kesembilan kalinya secara berturut-turut.

Presiden Finlandia, Alexander Stubb, menyebut pencapaian tersebut tidak berasal dari “formula ajaib”, melainkan dari nilai kebebasan, kesetaraan, dan keadilan dalam masyarakat.

Negara-negara Nordik seperti Islandia, Denmark, Swedia, dan Norwegia juga masih mendominasi peringkat 10 besar.

Sementara itu, Costa Rica mencatat lonjakan signifikan hingga masuk peringkat keempat berkat kuatnya ikatan sosial dan keluarga.

Laporan ini melibatkan sekitar 100.000 responden dari 140 negara yang diminta menilai kualitas hidup mereka dalam skala 0 hingga 10. Studi dilakukan bersama Gallup dan UN Sustainable Development Solutions Network.

Temuan ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran global terhadap dampak media sosial, termasuk wacana pembatasan akses bagi anak di bawah umur di sejumlah negara.

 

Pos terkait