Tekanan Produksi dan Proyeksi Suram, Saham Intel Terjun 17 Persen

Ilustrasi Intel. Saham Intel terjun 17 persen usai proyeksi pendapatan meleset dan tekanan produksi chip masih berlanjut.

Kumbanews.com – Saham Intel kembali tertekan tajam setelah manajemen merilis proyeksi pendapatan yang meleset dari ekspektasi pasar. Pada perdagangan Jumat, 23 Januari 2026, saham raksasa semikonduktor asal Amerika Serikat itu anjlok hingga 17 persen.

Tekanan terhadap saham Intel dipicu kombinasi gangguan pasokan serta tersendatnya pengembangan teknologi manufaktur terbaru. Dua faktor ini dinilai krusial bagi upaya pemulihan Intel di tengah ketatnya persaingan industri chip global.

Bacaan Lainnya

Dalam proyeksi terbarunya, Intel memperkirakan pendapatan kuartal yang berakhir Maret 2026 berada di kisaran 11,7 hingga 12,7 miliar Dolar AS. Angka tersebut berada di bawah konsensus analis Wall Street yang mematok sekitar 12,6 miliar Dolar AS, sehingga memicu aksi jual besar-besaran.

Intel mengakui lonjakan permintaan chip, terutama dari segmen pusat data pada akhir 2025, justru menjadi tantangan. Kapasitas produksi perusahaan belum sepenuhnya mampu mengimbangi permintaan, sementara Intel masih berjuang menyempurnakan proses manufaktur mutakhir 18A yang digadang-gadang menjadi tulang punggung kebangkitan divisi foundry.

CEO Intel, Lip-Bu Tan, mengakui tekanan besar yang tengah dihadapi perusahaan. Ia menegaskan Intel bekerja agresif untuk mengejar ketertinggalan pasokan.

“Kami bekerja secara agresif untuk meningkatkan pasokan demi memenuhi permintaan pelanggan yang sangat kuat,” ujar Tan, dikutip dari Financial Times, Sabtu, 24 Januari 2026.

Meski demikian, Tan menilai peluncuran chip PC terbaru berbasis teknologi 18A tetap menjadi tonggak penting, meskipun belum memberikan dampak finansial signifikan dalam jangka pendek.

Ironisnya, koreksi tajam saham Intel terjadi di tengah kinerja kuartalan yang relatif solid. Pada kuartal yang berakhir Desember 2025, Intel mencatat pendapatan sebesar 13,7 miliar Dolar AS, sedikit melampaui estimasi analis sebesar 13,4 miliar Dolar AS.

Sebelum laporan keuangan dirilis, saham Intel bahkan sempat melonjak hampir 50 persen sepanjang tahun ini. Kenaikan tersebut didorong oleh dukungan politik Presiden AS Donald Trump serta optimisme pasar terhadap prospek chip PC generasi terbaru Panther Lake.

Namun demikian, tantangan struktural tetap membayangi. Intel kini berada di bawah tekanan besar untuk membuktikan ambisinya sebagai satu-satunya produsen chip canggih asal Amerika Serikat, termasuk untuk kebutuhan kecerdasan buatan (AI). Meski telah menggelontorkan investasi miliaran Dolar, persoalan yield atau tingkat keberhasilan chip layak pakai dari proses 18A masih menjadi pekerjaan rumah.

“Yield memang sesuai rencana internal kami, tetapi belum berada di level yang saya inginkan,” kata Tan.

Selain itu, implementasi teknologi 18A turut meningkatkan biaya produksi dalam jangka pendek. Intel optimistis biaya tersebut akan menurun seiring meningkatnya volume produksi.

Tan juga memberi sinyal tegas terkait masa depan teknologi berikutnya, 14A. Intel disebut tidak akan ragu menghentikan pengembangannya jika gagal mengamankan pelanggan besar seperti Apple dan Qualcomm. Pernyataan ini menegaskan bahwa strategi manufaktur Intel kini sangat bergantung pada kepercayaan pasar dan komitmen klien utama.

Pos terkait