Lima Negara Eropa Tuding Rusia Gunakan Racun Epibatidine dalam Kematian Alexei Navalny

Lima negara Eropa menilai kematian Alexei Navalny diduga akibat racun epibatidine, namun pemerintah Rusia membantah keras tudingan tersebut. (istimewa)

Lima negara Eropa menuding Rusia berada di balik kematian tokoh oposisi Kremlin, Alexei Navalny, dengan dugaan penggunaan racun epibatidine.

Kumbanews.com – Lima sekutu Eropa menuding Rusia bertanggung jawab atas kematian tokoh oposisi Kremlin, Alexei Navalny, yang meninggal dunia di koloni penjara Arktik pada Februari 2024.

Bacaan Lainnya

Dalam pernyataan bersama, Inggris, Prancis, Jerman, Swedia, dan Belanda menyebut analisis sampel dari tubuh Navalny menemukan jejak epibatidine, toksin yang diketahui berasal dari katak panah beracun di Amerika Selatan dan tidak ditemukan secara alami di Rusia.

Kelima negara tersebut menilai Rusia memiliki sarana, motif, dan kesempatan untuk memberikan zat beracun itu ketika Navalny berada dalam tahanan.

“Rusia mengklaim bahwa Navalny meninggal karena sebab alami. Namun, mengingat toksisitas epibatidine dan gejala yang dilaporkan, keracunan sangat mungkin menjadi penyebab kematiannya,” demikian pernyataan bersama itu, seperti dikutip dari TASS, Minggu (15/2/2026).

Pemerintah Rusia membantah tudingan tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menyebut tuduhan itu sebagai propaganda Barat.

Menurut Zakharova, Moskwa baru akan memberikan tanggapan resmi setelah hasil uji dan formula zat yang dimaksud dipublikasikan secara terbuka. “Sampai saat itu, semua pernyataan tersebut hanyalah propaganda yang bertujuan mengalihkan perhatian dari isu-isu penting di Barat,” ujarnya.

Kedutaan Besar Rusia di London juga menyatakan tuduhan tersebut mencerminkan pola sikap yang dinilai tidak berdasar terhadap Moskwa.

Navalny meninggal dunia setelah menjalani hukuman atas tuduhan ekstremisme dan sejumlah dakwaan lain yang seluruhnya ia bantah. Kabar kematiannya diumumkan menjelang pembukaan Munich Security Conference 2024, forum tahunan yang mempertemukan para pemimpin dan pejabat keamanan dunia.

Kematian Navalny kembali memicu ketegangan diplomatik antara Rusia dan negara-negara Barat, yang sejak awal menaruh perhatian besar terhadap nasib oposisi paling vokal terhadap Kremlin tersebut.

 

Pos terkait