Video Viral Seret Nama Amien Rais Dikritik, Postidar Minta Klarifikasi dan Hentikan Narasi Provokatif

Potongan video yang menyeret nama Amien Rais dan Seskab Teddy Indra Wijaya viral di media sosial dan menuai kritik dari sejumlah pihak. (Ist)

Kumbanews.com – Video viral yang diduga memuat pernyataan Amien Rais terkait Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menuai kecaman dari sejumlah tokoh. Mereka menilai konten tersebut berpotensi memicu keresahan publik dan memperkeruh situasi politik.

Kelompok Poros Profesional Terpadu untuk Indonesia Raya (Postidar) menyayangkan beredarnya video tersebut, terutama karena narasi yang dinilai belum terverifikasi.

Bacaan Lainnya

Anggota Presidium Postidar, Ahmad Kailani, menegaskan bahwa tudingan dalam video itu tidak mendidik dan berpotensi mengarah pada fitnah.

“Tudingan tanpa dasar yang jelas tidak hanya menyesatkan, tetapi juga berisiko membentuk opini publik yang keliru,” ujarnya, Sabtu (2/5/2026).

Ia juga mengingatkan bahwa tidak semua masyarakat memiliki kemampuan untuk memverifikasi informasi yang beredar di media sosial. Karena itu, penyebaran konten yang belum teruji kebenarannya dinilai sangat berbahaya.

Desakan Klarifikasi

Senada, Ketua Pijar 98 sekaligus Presidium Postidar, Sulaiman Haikal, mendesak agar pihak terkait segera memberikan klarifikasi.

Menurutnya, pernyataan yang belum dipastikan kebenarannya bisa berdampak luas jika terus dibiarkan beredar.

“Jika ini bagian dari upaya memecah belah, tentu sangat berbahaya bagi masyarakat,” tegasnya.

Pemerintah Angkat Bicara

Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, turut merespons video tersebut. Ia menyebut terdapat indikasi narasi yang mengarah pada fitnah, serangan personal, hingga pembunuhan karakter.

Selain itu, konten tersebut juga disebut menyeret nama Presiden Prabowo Subianto.

Pemerintah pun mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi, serta lebih bijak dalam menyaring konten yang beredar di ruang digital.

Situasi ini kembali menegaskan pentingnya literasi digital di tengah derasnya arus informasi. Masyarakat diharapkan mampu memilah fakta dan opini, serta tidak ikut menyebarkan konten yang berpotensi menyesatkan.

Pos terkait