Kumbanews.com – Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, mengaku mengalami serangkaian teror dan serangan karakter di media sosial setelah aktif mengkritisi sejumlah kebijakan pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Tak hanya menerima ancaman penculikan dan pembunuhan, Tiyo juga menghadapi berbagai tudingan personal yang dinilainya sebagai upaya menjatuhkan reputasinya.
Dalam podcast Madilog bersama Indra J Piliang yang tayang di kanal YouTube Forum Keadilan TV, Jumat (20/2/2026), Tiyo menyebut sedikitnya ada empat isu yang diarahkan kepadanya.
“Ada empat serangan karakter yang saya catat. Semuanya mencoba mencari aib personal saya. Karena tidak menemukan, akhirnya mengarang,” ujar Tiyo.
Tuduhan pertama yang beredar adalah soal orientasi seksual. Ia disebut sebagai bagian dari kelompok LGBT karena tidak memiliki pacar perempuan.
“Mereka menyebarkan isu bahwa Ketua BEM UGM itu LGBT. Mungkin karena mereka tidak menemukan siapa pacar saya. Padahal saya memang sedang berkomitmen untuk tidak pacaran. Jangan karena tidak punya pacar perempuan lalu dianggap suka laki-laki,” tegasnya.
Isu kedua berkaitan dengan foto hasil rekayasa Artificial Intelligence (AI) yang menampilkan dirinya bersama seorang perempuan di tempat karaoke dengan narasi bahwa ia kerap menyewa LC (pemandu lagu).
“Ada foto hasil generate AI yang memperlihatkan saya seolah-olah sedang bersama LC. Itu menggelikan,” katanya.
Tuduhan ketiga menyangkut dugaan penyelewengan dana organisasi. Tiyo membantah keras isu tersebut dan menilai tudingan itu mudah dipatahkan.
“Kalau saya menilap uang, sudah lama saya diberhentikan sebagai Ketua BEM UGM. Tidak ada itu,” ujarnya.
Sementara tuduhan keempat bernuansa politis. Ia disebut sebagai ‘Anak Abah’ atau pendukung Anies Baswedan karena pernah berfoto bersama mantan calon presiden tersebut.
Tiyo menjelaskan, pertemuan itu terjadi dalam forum reuni alumni pimpinan BEM UGM. Menurutnya, hubungan tersebut bukan relasi politik, melainkan sebatas jejaring alumni kampus.
“Mas Anies hadir sebagai alumni dan mantan Ketua Senat Mahasiswa tahun 1992. Itu forum terbuka untuk seluruh alumni BEM UGM,” pungkasnya.





