Judul:
Pemilu Perdana Gaza Usai 20 Tahun Digelar di Tengah Perang, Hamas Absen karena Syarat Politik
Slug:
pemilu-gaza-2026-hamas-absen-syarat-politik
Deskripsi (±100 karakter):
Gaza gelar pemilu pertama sejak 2006 di tengah konflik, Hamas tak ikut karena syarat politik.
KUMBANEWS.com – Jalur Gaza mencatat momentum politik penting dengan digelarnya pemilu daerah pertama dalam dua dekade, di tengah kondisi perang yang belum sepenuhnya reda.
Pemungutan suara berlangsung di Deir al-Balah, Gaza bagian tengah, pada Minggu, 26 April 2026. Sekitar 70 ribu warga tercatat memiliki hak pilih, meski pelaksanaannya hanya mencakup sebagian kecil populasi wilayah tersebut.
Pemilu ini menjadi yang pertama sejak Hamas mengambil alih kekuasaan di Gaza pada 2006. Di tengah keterbatasan dan situasi konflik, antusiasme warga tetap tinggi. Banyak yang memandang proses demokrasi ini sebagai simbol harapan baru.
“Sebagai warga Palestina dan putra Gaza, saya bangga karena setelah perang ini, proses demokrasi kembali berjalan,” ujar Mamdouh al-Bhaisi (52), dikutip dari Reuters.
Pelaksanaan pemilu berlangsung dengan berbagai kendala. Sejumlah fasilitas umum, termasuk sekolah yang biasa digunakan sebagai tempat pemungutan suara (TPS), mengalami kerusakan akibat konflik. Panitia pun harus menggunakan tenda sebagai alternatif lokasi pencoblosan.
Direktur regional komisi pemilu Palestina, Jamil al-Khalidi, menegaskan pihaknya tetap berkomitmen menyukseskan pemilu meski dalam kondisi terbatas.
“Kami bertekad menyelenggarakan pemilihan ini dengan berbagai alternatif agar proses demokrasi tetap berjalan,” katanya.
Dalam pemilu kali ini, Hamas tidak ikut bertarung. Hal itu disebabkan syarat pencalonan yang mewajibkan peserta mengakui Israel serta mendukung solusi dua negara.
Meski tidak berpartisipasi secara langsung, pengaruh Hamas tetap terasa dalam dinamika politik Gaza. Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, menyebut pemilu ini sebagai langkah awal menuju pelaksanaan pemilu nasional yang lebih luas.
“Kami memandang pemilihan ini sebagai langkah penting, dan berharap dapat diperluas ke seluruh wilayah Gaza,” ujarnya.
Pemilu ini dinilai sebagai sinyal awal kebangkitan proses demokrasi di tengah situasi kemanusiaan dan keamanan yang masih penuh tantangan.





