Kumbanews.com – Serangan besar-besaran yang dilancarkan Israel ke Lebanon menewaskan sedikitnya 254 orang dan memicu ketegangan baru di kawasan Timur Tengah.
Serangan yang terjadi pada Rabu (8/4/2026) itu disebut melibatkan sekitar 50 jet tempur yang menghantam lebih dari 100 target hanya dalam waktu 10 menit. Korban terbanyak dilaporkan berada di ibu kota Beirut, dengan sedikitnya 91 orang tewas.
Aksi militer ini langsung memicu ancaman balasan dari Iran, sekaligus menimbulkan keraguan terhadap kelanjutan rencana perundingan damai antara Iran dan Amerika Serikat.
Ketegangan meningkat setelah adanya perbedaan tafsir terkait gencatan senjata yang sebelumnya diumumkan oleh Donald Trump. Iran menilai kesepakatan tersebut telah dilanggar, sementara AS dan Israel menegaskan bahwa gencatan senjata tidak mencakup wilayah Lebanon.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahkan menegaskan operasi militer akan terus berlanjut.
“Kami siap kembali bertempur kapan saja,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf menyebut kondisi saat ini membuat upaya negosiasi menjadi tidak relevan.
“Dalam situasi seperti ini, gencatan senjata atau negosiasi menjadi tidak masuk akal,” katanya.
Perbedaan tajam juga terjadi terkait isu program nuklir Iran. Pemerintah AS mengklaim Teheran telah sepakat menghentikan pengayaan uranium, namun pihak Iran membantah dan menegaskan program tersebut tetap berjalan.
Di tengah konflik, Iran juga dilaporkan melancarkan serangan balasan ke sejumlah fasilitas energi di kawasan Teluk, termasuk infrastruktur minyak di Arab Saudi, Kuwait, hingga Uni Emirat Arab.
Ketegangan semakin kompleks dengan penutupan Selat Hormuz yang berdampak pada jalur distribusi energi global. Biaya logistik dan risiko pasokan minyak dunia pun meningkat tajam.
Meski kedua pihak sama-sama mengklaim kemenangan dalam konflik yang telah berlangsung lebih dari lima pekan, realitas di lapangan menunjukkan situasi masih jauh dari stabil.
Gencatan senjata yang diharapkan menjadi pintu masuk diplomasi kini justru terancam runtuh, sementara eskalasi militer terus berlanjut dan memperbesar risiko konflik regional yang lebih luas.





