Kumbanews.com – Ketegangan diplomatik antara Korea Selatan dan Israel mencuat setelah Presiden Lee Jae-myung melontarkan kritik terkait dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM).
Polemik bermula dari unggahan Lee di media sosial X pada Jumat (10/4/2026), saat ia menanggapi sebuah video yang diklaim memperlihatkan tentara Israel menyiksa seorang anak Palestina. Lee menyatakan perlunya verifikasi atas video tersebut, sekaligus mempertanyakan langkah yang diambil jika kejadian itu benar.
Namun, keaslian video tersebut belum dapat dipastikan. Laporan menyebutkan rekaman itu diduga merupakan sudut pandang lain dari insiden lama di Tepi Barat yang terjadi pada 2024.
Menanggapi pernyataan tersebut, Kementerian Luar Negeri Israel menilai Lee telah menyebarkan informasi yang menyesatkan. Mereka menyebut video yang diangkat merupakan peristiwa lama yang kembali dimunculkan oleh akun tidak kredibel.
“Presiden Lee mengutip akun palsu yang menyajikan peristiwa lama seolah-olah kejadian terbaru,” demikian pernyataan resmi otoritas Israel.
Israel juga menegaskan bahwa insiden tersebut telah diselidiki dan ditangani sebelumnya.
Meski mendapat kritik, Lee kembali menyampaikan sikap tegas. Ia mengaku kecewa atas respons Israel yang dinilai tidak menunjukkan refleksi terhadap kritik global terkait isu HAM.
“Sangat mengecewakan ketika tidak ada refleksi atas penderitaan yang dirasakan banyak orang akibat pelanggaran HAM dan hukum internasional,” tulis Lee.
Ia menambahkan bahwa pernyataannya bertujuan menegaskan nilai universal kemanusiaan, bukan untuk memihak dalam konflik tertentu.
Sebagai sekutu Amerika Serikat, baik Korea Selatan maupun Israel selama ini memiliki hubungan strategis. Namun, Seoul dikenal cenderung mengambil posisi seimbang dalam konflik Timur Tengah dan tidak secara terbuka memihak salah satu pihak.
Kasus ini menjadi sorotan karena berpotensi memengaruhi dinamika diplomatik di tengah meningkatnya sensitivitas isu HAM di tingkat global.





