Kumbanews.com – Sebuah video yang memperlihatkan tumpukan sampah di Jalan Mannuruki 2, tepat di depan Masjid Babussada Alauddin 2, Kelurahan Mangasa, Kecamatan Tamalate, viral di media sosial Instagram melalui unggahan akun Makassar Info. Dalam video tersebut, warga menyuarakan keluhan karena sampah tak diangkut hampir sepekan, sementara pungutan retribusi tetap berjalan rutin.
Perlu diketahui, foto yang beredar di beberapa unggahan hanyalah ilustrasi, bukan dokumentasi langsung dari lokasi kejadian.
Menanggapi hal itu, Camat Tamalate H. Emil Yudiyanto Tadjuddin, SE., M.Si. angkat bicara memberikan klarifikasi. Ia menyampaikan permohonan maaf kepada warga atas keterlambatan pengangkutan sampah di wilayahnya, sambil menegaskan bahwa kondisi tersebut bukan karena kelalaian petugas, melainkan kendala teknis di lapangan.
“Mohon maaf atas keterlambatan penjemputan di Jalan Mannuruki 2 kemarin. Hal ini terjadi karena mobil pengangkut mengalami hambatan akibat kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang saat ini becek. Biasanya mobil bisa dua kali melakukan pembuangan, tapi sekarang hanya sekali karena harus antre lama,” jelas Emil, Rabu (21/10).
Emil menambahkan, pihak kecamatan terus berkoordinasi dengan dinas terkait agar layanan kebersihan tetap berjalan optimal, meskipun kondisi di TPA tengah sulit akibat cuaca yang tidak bersahabat.
Sementara itu, Lurah Mangasa Muhammad Nurdyansyah, S.IP. juga menjelaskan hal serupa. Ia mengakui adanya keterlambatan akibat antrean panjang di TPA Antang, yang diperparah kondisi jalan tergenang setelah hujan deras.
“Kami dari Kelurahan Mangasa memohon maaf atas ketidaknyamanan warga. Keterlambatan ini karena armada pengangkut terhambat antrean di TPA yang becek serta terbatasnya jumlah kendaraan di kelurahan,” ungkap Nurdyansyah, Jumat (24/10/2025).
Dari total tiga unit truk tangkasaki yang dimiliki, dua di antaranya sering mengalami kerusakan. Sementara dari tiga belas unit fukuda/viar, tiga kendaraan mengalami kerusakan berat dan tidak dapat beroperasi. Kondisi ini menyebabkan jadwal pengangkutan kerap tersendat.
Sebagai solusi jangka menengah, pihak kecamatan dan kelurahan mendorong masyarakat untuk ikut berperan aktif dalam pengelolaan sampah mandiri di rumah masing-masing.
“Kami berharap warga dapat mulai melakukan pengolahan sampah skala rumah tangga, seperti melalui komposter, lubang biopori, teba modern, atau pemilahan sampah organik dan anorganik. Dengan begitu, volume sampah yang diangkut bisa berkurang dan kebersihan lingkungan tetap terjaga,” ujar Emil.
Pemerintah Kecamatan Tamalate berharap klarifikasi ini dapat menjawab keresahan warga sekaligus menjadi momentum memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. (**)





