Kumbanews.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan AS akan mengambil alih pengelolaan cadangan minyak Venezuela dan mengundang perusahaan energi Amerika untuk menanamkan investasi bernilai miliaran dolar. Langkah ini diklaim sebagai upaya membangkitkan industri minyak Venezuela yang selama ini terbengkalai.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump pada Sabtu waktu setempat, menyusul penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dalam operasi militer besar-besaran. Trump bahkan menyebut Amerika Serikat akan mengelola pemerintahan Venezuela untuk sementara waktu.
“Kami akan membawa perusahaan minyak Amerika terbesar, menginvestasikan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur minyak yang rusak parah, dan mulai menghasilkan pendapatan bagi negara itu,” ujar Trump dalam konferensi pers di Mar-a-Lago, seperti dikutip dari CNN, Minggu (4/1/2026).
Berdasarkan data US Energy Information Administration (EIA), Venezuela memiliki sekitar 303 miliar barel cadangan minyak mentah, terbesar di dunia dan mencakup hampir seperlima cadangan global. Namun, produksi minyak negara itu saat ini hanya sekitar 1 juta barel per hari, jauh di bawah potensi sebenarnya.
Produksi tersebut merosot tajam dibandingkan sebelum Maduro berkuasa pada 2013 dan era sebelum nasionalisasi industri minyak. Sanksi internasional, krisis ekonomi berkepanjangan, serta minimnya investasi dan perawatan infrastruktur menjadi faktor utama penurunan produksi.
Perusahaan minyak negara PDVSA mengakui jaringan pipa minyak belum diperbarui selama puluhan tahun. Biaya pemulihan produksi ke level puncak diperkirakan mencapai USD 58 miliar.
Analis pasar senior Price Futures Group, Phil Flynn, menilai situasi ini berpotensi menjadi momen bersejarah bagi pasar energi global. Ia menyebut industri minyak Venezuela mengalami kehancuran akibat kebijakan rezim sebelumnya.
Minyak Venezuela sendiri tergolong heavy sour crude, jenis minyak berat dengan kandungan sulfur tinggi yang sangat dibutuhkan untuk produksi diesel dan bahan bakar industri. Banyak kilang minyak di AS dirancang khusus untuk mengolah minyak jenis ini, sehingga dinilai lebih efisien dibandingkan menggunakan minyak domestik AS.
Meski demikian, sejumlah analis menilai dampak jangka pendek terhadap harga minyak global akan terbatas. Presiden Rapidan Energy Group, Bob McNally, mengatakan efeknya bergantung pada stabilitas politik dan kecepatan peningkatan produksi di Venezuela.
“Semuanya bergantung pada seberapa cepat realisasi di lapangan, bukan hanya persepsi pasar,” ujarnya.
Trump menyebut kondisi industri minyak Venezuela saat ini sebagai “kegagalan total” dan berjanji akan mengembalikan sektor tersebut ke level maksimal dengan dukungan penuh perusahaan energi Amerika Serikat. (***)





